Rabu, 19 Desember 2007

Siapakah Penulis Qur'an ? bag 2

Siapakah Penulis Qur'an ?


Sebuah Pengamatan: Bagian 2

Sumber : http://www.islam-watch.org/AbulKasem/WhoAuthoredQuran/who_authored_the_quran2.htm

Penulis : Abul Kasem


Labid

Labid adalah penyair lain yang sangat dikagumi Muhammad. Sekarang kita lihat secara singkat sumbangan penyair ini dalam penulisan Qur’an. Labid adalah Anak dari Rabiah ibn Jafar al-Amiri. Kamus Islam [25] melaporkan bahwa Labid wafat di Kufah di Iraq pada usia 157 tahun. Seperti telah disebut, Labid adalah satu dari tujuh penyair ulung Muallaqat. Sejarawan Islam menyatakan Labid memeluk Islam ketika dia membawa ayat pertama Sura al-Bakara (Sura 2) dicantumkan di dinding Ka’ba; dan dia lalu tidak jadi mencantumkan puisinya dan lalu memeluk Islam. Pernyataan ini tentu saja tidak betul karena ayat pertama Sura al-Bakara hanyalah berbunyi: Alif. Lam. Mim – ini adalah kode pesan yang Muhammad sendiri tidak tahu artinya dan dia berkata hanya Allah saja yang mengetahui artinya. Sedangkan ayat yang ditulis Labid berbunyi: “Ketahuilah bahwa segalanya hanya mementingkan diri sendiri kecuali Tuhan.” Muhammad menjuluki Labid sebagai penyair sejati. Bahkan jikalau seandainya orang menganggap Labid jadi Muslim setelah membaca ayat2 Muhammad, maka sungguh lebih jelas lagi bahwa Labid membantu Muhammad menyusun puisi yang nantinya, disampaikan pada Allah melalui malaikat Jibril. Ayat2 yang ditulis Labid bagi Muhammad kebanyakan berhubungan dengan kebaikan, pentingnya perbuatan2 baik, narasi2 tata cara hidup orang Arab, dll.

Di ahadis (kumpulan hadis2) kita temukan keterangan yang bersangkutan dengan Labid. Ini beberapa contohnya:

Sahih Bukhari, Volume 5, Buku 58, Nomer 181:
Dikisahkan oleh Abu Huraira: Sang Nabi berkata, "Kata2 yang paling benar yang dikatakan seorang penyair adalah kata2 dari Labid.” Katanya, Memang benar, semuanga kecuali Allah akan binasa dan Umaiya bin As-Salt hampir jadi Muslim (tapi dia tidak memeluk Islam).

Sahih Bukhari, Volume 8, Book 76, Number 496:
Dikisahkan oleh Abu Huraira:
Sang Nabi berkata, “Ayat puisi paling benar yang diucapkan oleh seorang penyair adalah: Memang benar! Semuanya, kecuali Allah, akan binasa.” Hadis ini tentunya mengatakan tentang puisi Labid.

Sahih Muslim, Buku 028, Nomer 5604:
Abu Huraira melaporkan bahwa Rasul Allah berkata:
Kata2 yang paling benar yang diucapkan oleh seorang Arab (di jaman sebelum Islam) dalam puisi adalah ayat dari Labid: Waspadalah! Di luar Allah semuanya adalah sia2.”

Tampaknya pada awalnya Muhammad ingin jadi penyair terkenal dengan cara meniru gaya, tata bahasa, susunan syair dari penyair2 di jamannya. Akan tetapi karena dia buta huruf, maka hal itu susah dilaksanakan sampai dia bertemu dengan Zayd ibn Amr dan Labid – keduanya adalah pembimbingnya yang banyak membantunya.

Sebelum perkawinannya dengan Khadijah, tampaknya Muhammad ingin menjadi penyair. Dia sangat mengagumi penyair2 Imrul Qays dan Labid dan humanis Zayd b. Amr. Meskipun begitu, setelah menikah dengan Khadijah dan bertemu dengan orang2 yang dekat dengan Khadijah dan paham akan agama2 lain di luar paganisme, Muhammad lalu berubah pikiran. Sekarang dia ingin membuat sistem kepercayaan baru. Sebenarnya dalam Qur’an tercantum bahwa masyarakat Quraish mengira Muhammad mencoba menjadi penyair, tapi Allah menegur masyarakat Quraish karena telah salah menduga.

Ini beberapa contoh ayat tersebut:
Q 52:30
Bahkan mereka mengatakan: "Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya".

Masyarakat pagan mengira Muhammad adalah penyair yang suka mimpi yang bukan2, dan mereka memintanya menunjukkan muzizat sebagai bukti dia adalah Rasul Tuhan.
Q 21:5
Bahkan mereka berkata (pula): "(Al Qur'an itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair, maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagaimana rasul-rasul yang telah lalu diutus".

Q 36:39 menyatakan bahwa Muhammad tidak bersyair dan Qur’an adalah kitab yang jelas maknanya:
Q 36:39
Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan,

Q 37:36, 37
[36] dan mereka berkata: "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?"
[37] Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya).

Q 69:41, 42 menyatakan bahwa Qur’an bukanlah kata2 penyair atau tukang tenung
Q 69:41,42
[41] dan Al Qur'an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.
[42] Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya.

Hasan b. Thabit

Hasan b. Thabit penyair yang bekerja resmi bagi Muhammad sendiri. Hasan b. Thabit menulis Diwan yang adalah kumpulan sajak Arab kuno. Ketika Muhammad hijrah ke Medina, dia mengangkat Hasan b. Thabit sebagai penyair pribadinya. Meskipun begitu, Hasan b. Thabit memendam kebencian dalam terhadap kaum Muslim. Di halaman xxviii dari buku Sirat Rasul Allah, sang penerjemah yakni Professor Alfred Guillaume menulis, “Hasan b. Thabit tidak suka dengan bertambahnya jumlah kaum Muslim. Dia menganggap semua Muslim2 miskin tak punya rumah itu menjengkelkan. Dia tidak menyediakan rumahnya sebagai tempat tinggal bagi Mujahirin manapun, dan dia pun tidak bersikap bagai saudara pada mereka semua.

Tampaknya, Hasan b. Thabit adalah penyair bayaran (mirip dengan wartawan bayaran) yang dibayar Muhammad untuk menyusun puisi yang diinginkan Muhammad. Hal ini pun dibenarkan dalam Ahadis. Ini contoh2nya:

Muhammad mengijinkan Hassan b. Thabit membacakan puisi dalam mesjid:
Sahih Bukhari, Volume 4, Buku 54, Nomer 434:
Dikisahkan oleh Sa'id bin Al-Musaiyab:
'Umar datang ke Mesjid saat Hassan sedang membacakan sebuah puisi. (‘Umar tidak suka akan hal itu.) Karena itu Hassan berkata, “Aku biasa membacakan puisi di Mesjid ini juga pada saat dia (Sang Nabi) berada dan dia lebih baik daripada kamu.” Lalu dia berpaling pada Abu Huraira dan berkata (padanya), “Aku bertanya padamu demi Allah, tidakkah kau mendengar Rasul Allah berkata (padaku), “Jawablah untuk mewakiliku. Wahai Allah! Dukung dia (Hassan) dengan Rohul Kudus?” Abu Huraira berkata, “Ya.”
Hadis ini sudah jelas menunjukkan Hasan memang biasa menyusun puisi2 bagi Muhammad untuk dibacakan dalam mesjid. Apakah puisi2 tulisannya sama dengan yang terdapat dalam Sura2 Qur’an?

Muhammad memerintahkan Hassan sang penyair untuk mengejek kaum pagan:
Hadis Sahih Bukhari, Volume 4, Buku 54, Nomer 435:
Dikisahkan oleh Al Bara:
Sang Nabi berkata pada Hassan, “Ejek mereka (kaum pagan) dan Jibril bersertamu.” Hadis ini jelas menunjukkan bahwa Hasan b. Thabit memang biasa menyusun puisi sesuai dengan apa yang disukai atau tidak disukai Muhammad. Hal ini serupa dengan Qur’an yang disusun berdasarkan wahyu Allah melalui Jibril.

Hassan b. Thabit mengejek masyarakat pagan Quraish, sambil tidak lupa menyisihkan Muhammad yang berasal masyarakat Quraish:
Hadis Sahih Bukhari, Volume 4, Buku 56, Nomer 731:
Dikisahkan oleh 'Aisha:
Suatu saat Hassan bin Thabit meminta izin dari sang Nabi untuk mengejek (menulis puisi satir untuk menyindir) kaum kafir. Sang Nabi berkata, “Bagaimana dengan kenyataan bahwa aku pun satu keturunan dengan mereka?” Hassan menjawab, “Aku akan memisahkanmu dari mereka bagaikan memisahkan sehelai rambut dari adonan kue.” Dikisahkan oleh ‘Urwa: Aku mulai menyakiti Hassan di hadapan ‘Aisha, dan ‘Aisha berkata, “Jangan sakiti dia, karena dia sering membela sang Nabi (dengan puisinya).”

Berikut adalah bukti2 lain bahwa Hasan b. Thabit memang penulis syair pesanan Muhammad. Muhammad meminta penyairnya untuk mengejek kaum Yahudi Bani Qurayzah lewat puisinya:
Sahih Bukhari, Volume 5, Buku 59, Nomer 449:
Dikisahkan oleh Al-Bara:
Sang Nabi berkata pada Hassan, “Sakiti mereka (dengan puisimu), dan Jibril ada bersertamu (mendukungmu).” (Dari kelompok penyampai kisah lainnya) Al-Bara bin Azib berkata, “Di hari (pengepungan) Quraiza, Rasul Allah berkata pada Hassan bin Thabit, ‘Sakiti mereka (dengan puisimu), dan Jibril ada bersertamu (mendukungmu).’”
Hadis ini jelas menunjukkan bahwa Muhammad menyuruh Hassan b. Thabit untuk menyusun puisi2 yang sesuai dengan permintaannya.

Hadis Sahih Muslim, Buku 5, Nomer 2186: Anas melaporkan bahwa ketika ayat ini diwahyukan: “Kau tidak akan meraih kebenaran sampai kau memberikan dengan rela apa yang kau cintai,” Abu Talha berkata: Aku melihat Yang Mulia meminta kami menyerahkan harta milik kami; jadi aku memintamu jadi saksiku, Rasul Allah, bahwa aku memberikan tanahku yang dikenal sebagai Bairaha’ demi keperluan Allah. Mendengar itu Rasul Allah (semoga damai menyertainya) berkata: Berikan itu kepada sanak keluargamu. Maka dia memberikannya kepada Hassan b. Thabit dan Ubayy b. Ka’b.
Hadis di atas menunjukkan bagaimana Muhammad membayar Hassan b. Thabit dalam menyusun ayat2 Qur’an (melalui puisinya dan dibantu Jibril) bagi Muhammad.

Setelah Hassan b. Thabit buta, dia banyak menghabiskan waktu di rumah Aisha. Aisha mengaguminya karena Hassan sering menulis syair penyangkalan atas nama Muhammad.

Hadis Sahih Muslim, Buku 031, Nomer 6077:
Masruq melaporkan: Aku mengunjungi ‘A’isha ketika Hassan sedang duduk di sana dan melafalkan ayat2 dari kumpulan tulisan: Dia (A’isha) suci dan bijaksana. Tidak ada yang salah pada dirinya dan dia bangun pagi tanpa makan daging yang tidak bersih. 'A'isha berkata: Tapi tidak demikian denganmu. Masruq berkata: kukatakan padanya: Mengapa kau mengizinkannya mengunjungimu, padahal Allah telah berkata: “Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (Q 24:11)? Mendengar itu dia (A’isha) berkata: Azab apa lagi yang lebih besar dibandingkan keadaannya sekarang yang buta? Dia dulu sering menulis satir sebagai bantahan yang mewakili Rasul Allah. Hadis di atas menjelaskan bagaimana dulu Hassan b. Thabit menyelamatkan muka Muhammad dan Qur’an-nya!
Hadis di atas menjelaskan bagaimana dulu Hassan b. Thabit menyelamatkan muka Muhammad dan Qur’an-nya!

Berikut adalah Hadis lain dari kumpulan Hadis Sahih Muslim yang menyatakan bahwa puisi2 Hassan b. Thabit ditulis dengan bantuan kekuatan illahi (Ruh-ul-Quddus) dan serupa dengan beberapa ayat2 Qur’an!

Hadis Sahih Muslim, Buku 031, Nomer 6081:
'A'isha melaporkan bahwa Rasul Allah berkata: Buatlah satir (puisi yang mengejek) para (kafirun diantara masyarakat) Quraish, karena satir lebih menyakitkan mereka daripada sakit tertusuk anak panah. Karena itu dia (Sang Nabi Suci) mengirim (seseorang) kepada Ibn Rawiha dan memintanya untuk menulis satir melawan mereka, dan dia pun menyusun satir, tapi dia (Sang Nabi Suci) tidak suka syairnya. Dia lalu mengirim (seseorang) kepada Ka’b b. Malik (untuk melakukan hal yang sama, tapi Sang Nabi Suci juga tidak suka syairnya). Dia lalu mengirim seseorang kepada Hassan b. Thabit. Sewaktu utusan itu datang, Hassan berkata: Sekarang kau telah meminta singa ini yang menghajar (musuh2nya) dengan ekornya. Dia lalu menjulurkan lidahnya dan menggerakannya dan berkata: Demi Dia yang telah mengutusmu dengan Kebenaran, aku akan mencabik-cabik mereka dengan lidahku bagaikan kulit yang sobek. Mendengar itu Rasul Allah berkata: Jangan terburu-buru; (biarkan) Abu Bakr yang tahu betul akan masyarakat Quraish menjelaskan padamu kekhususan garis keturunanku, karena aku berasal dari keturunan yang sama dengan mereka. Hassan lalu datang padanya (Abu Bakr) dan setelah melakukan penelaahan (tentang garis keturunan Sang Nabi Suci) dia kembali menghadap padanya (Sang Nabi Suci) dan berkata:
Rasul Allah, dia (Abu Bakr) telah menjelaskan kekhususan garis keturunanmu (dan masyarakat Quraish) demi Dia yang telah mengirimu dengan Kebenaran, aku akan memisahkan namamu dari mereka bagaikan rambut dipisahkan ke luar dari tepung. 'A'isha berkata: Aku mendengar Rasul Allah berkata pada Hassan: Memang benar Ruh-ul- Qudus akan terus menolongmu selama kau membela demi Allah dan RasulNya. Dan ‘A’isha berkata: Aku mendengar Rasul Allah berkata:
Hassan menulis satir menentang mereka dan satir tersebut memuaskan kaum Muslim dan membuat gundah kaum non-Muslim.

Inilah syairnya:
Kalian menulis satir mengejek Muhammad, tapi aku membalas atas namanya,
Dan ada hadiah dari Allah untuk itu.
Kalian menulis satir mengejek Muhammad yang suci, yang benar,
Sang Rasul Allah, yang sifatnya penuh kebenaran.
Maka ayahku dan ayahnya dan kehormatanku
Semuanya membela kehormatan Muhammad;
Biarlah aku kehilangan putriku tercinta, jika aku tidak melihatnya lagi,
Menyingkirkan debu dari dua dinding Kada’,
Mereka menarik tali kekang, maju ke depan;
Di bahu mereka tampak tombak2 haus (darah musuh);
Kuda2 kami berkeringat – para wanita kami menyekanya dengan mantel2 mereka.
Jika kau tidak mencegah kami, kami tentu telah melakukan ‘Umroh,
Dan setelah itu terjadi Kemenangan, dan kegelapan tersingkir.
Tapi tunggulah pertempuran di hari Allah meninggikan mereka yang dikasihiNya.
Dan Allah berkata: Aku telah mengirim seorang utusan yang menyampaikan Kebenaran yang jelas;
Dan Allah berkata: Aku telah mempersiapkan sepasukan tentara – mereka adalah kaum Ansar yang tugasnya adalah berperang (melawan musuh),
Di sana setiap hari datang dari Ma’add penindasan, atau perkelahian atau ejekan;
Siapapun dari antara kalian yang menulis satir mengejek Sang Rasul, atau yang memujinya dan menolongnya, semuanya sama saja,
Dan Jibril, Sang Rasul Allah ada diantara kami, dan Rohul Kudus yang tiada tandingannya.

Muhammad menghadiahi Hassan sang penulis upahan dengan seorang gadis muda yang cantik bernama Sirin. Sirin dan Marriyah Kibtia adalah hadiah2 dari Gubernur Alexandria bernama Muyaqis bagi Muhammad. Muhammad mengambil Marriyah, yang tercantik dari antara kedua gadis tersebut, sebagai gundiknya dan menyerahkan Sirin kepada Hassan b. Thabit yang menggunakannya sebagai budak seksnya. Ibn Ishaq menulis bahwa Sirin dan Marriyah adalah kakak adik.[26]

Salman, sang orang Persia

Salman adalah orang yang berasal dari daerah Isfahan, Persia, yang awalnya taat mengikuti agama Zoroastria. Dia kemudian meninggalkan agama asalnya dan memeluk Kristen. Setelah itu dia dijual sebagai budak kepada seorang Yahudi dari suku Bani Qurazya di Medinah. Ketika Muhammad tiba di Medinah, Salman bertemu dengannya. Kurang lebih tiga tahun kemudian, dengan bantuan orang2 Muslim, dia berhasil membeli kemerdekaannya dari majikannya dan lalu memeluk Islam dan jadi pengikut setia Muhammad. Sewaktu perang Ahzab (Perang Parit), dialah yang pertama-tama mengajukan usul untuk menggali parit. Dia sangat berpengetahuan dengan buku2 agama Zoroastria dari Persia, dan juga buku2 Yunani dan Yahudi. Ali berkata tentang dirinya (dalam buku The Reliance of the Traveller, hal.1093):
“Dia adalah orang dari kami dan bagi kami, gudang pengetahuan illahi, dan hubungannya denganmu bagaikan Luqman yang bijaksana, yang telah mempelajari pengetahuan awal dan akhir, membaca kitab suci pertama dan terakhir: lautan yang sangat luas.” [27]

Sudah jelas bahwa Muhammad dengan cerdik menggunakan bakat Salman yang luar biasa untuk menyusun banyak ayat2 Qur’an yang berhubungan dengan kisah2 sejarah kuno Mesir, Yunani, Romawi, dan Persia. Dari Salman yang dulunya beragama Zoroastria inilah Muhammad jadi tahu banyak detail ajaran dan ibadah agama Zoroastria dan memasukkannya ke dalam Qur’annya. Penjabaran Surga dan Neraka milik Muhammad sangatlah mirip dengan Surga dan Neraka Zoroastria. Karena itulah, ayat2 Qur’an yang berhubungan dengan hukuman Neraka dan hadiah Surga sudah jelas hasil sumbangan Salman si orang Persia. Hal menarik lain yang patut diperhatikan adalah Salman punya hubungan erat dengan keluarga Muhammad. Aisha melaporkan bahwa Muhammad sering menghabiskan waktu berjam-jam bersama Salman – diskusi tentang berbagai masalah agama, sedemikian lamanya, sehingga Aisha mengira Salman akan menghabiskan malam hari bersama Muhammad.

Mereka yang membaca Qur’an secara seksama, akan banyak kali kaget mengetahui penjabaran detail Muhammad tentang Surga dan Neraka. Begitu banyak ayat2 Qur’an yang terus-menerus membahas masalah ini, misalnya hadiah sensual Surga bagi para Muslim; hukuman sadis, keji bagi para kafirun. Kebanyakan dari ayat2 ini sudah jelas diilhami Salman dan kemudian ditulis ulang dalam Qur’an atas perintah Muhammad sebagai firman Allah. Di bawah ini adalah contoh ayat2 tersebut. Untuk menghemat tempat, kutipan hanya menunjukkan pesan utama ayat. Silakan periksa Qur’an sendiri untuk membaca ayat2 selengkapnya.

Surga menurut Qur’an

Jika Muslim menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang Allah, maka Allah akan hapus dosa2 Muslim dan memasukkan Muslim ke surga....4:31
Muslim akan hidup enak dan tinggal selamanya di Surga ... 7:42
Di Surga tidak ada dendam, semua akan memuja Allah karena memberi petunjuk pada mereka... 7:43
Penghuni Surga akan bertanya tentang kesengsaraan yang dialami penghuni Neraka... 7:44
Allah menjanjikan Surga (dengan tempat2 yang bagus di taman Adn) kepada Muslim dan Muslimah mukmin…. 9:72
Taman2 abadi And, dengan sungai mengalir di bawahnya, dihiasi gelang emas, pakaian hijau, sutera halus; dipan2 indah...18:31
Di Surga terdapat dua kebun anggur yang dikelilingi pohon2 kurma dan terdapat sebuah ladang2 jagung di antaranya...18:32
Di Surga tiada kata2 yang sia2 melainkan ucapan salam, rezeki di pagi dan petang hari…. 19:62-63
Siapapun tidak akan mengetahui kenikmatan dan kebahagiaan yang Allah sediakan di Surga bagi para Muslim... 32:17
Muslim akan berada di taman And abadi; mereka akan dihiasi dengan gelang2 emas, mutiara, dan baju sutera... 35:33
Bagi budak2 Allah yang takwa, Allah akan menyediakan (di Surga) buah2an, kemuliaan, takhta kebesaran, duduk2 berhadapan, mengedarkan gelas berisi khamar dari sungai yang mengalir, minuman khamar yang putih bersih dan sedap, tidak mabuk, bidadari jelita... 37:41-50
Di Surga terdapat segala macam buas dan keamanan...44:55
Tiada kematian di Surga bagi Muslim mukmin kecuali kematian di dunia...44:56
Jihadis yang mati syahid akan berda di Surga... 47:6
Allah menawarkan Surga bagi Muslim takwa... 50:31
Di dekat pohon Lote terdapat Surga... 53:15
Mereka yang berada di dekat Allah berada di Surga kenikmatan…. 56:11-12
Luas kebun di Surga sama dengan luas langit dan bumi …. 57:21
Muslim bertobat maka Allah akan menghapus kesalahan dan mengirim mereka ke Surga di mana terdapat sungai mengalir; para Muslim akan bercahaya di hadapan dan sebelah kanan mereka...66:8
Allah akan menghadiahi Muslim mukmin Surga dan pakaian sutra...76:12
Muslim mukmin akan duduk bertelekan di atas dipan, tiada sengatan panas matahari dan dingin bulan...76:13
Penghuni Surga akan menikmati minuman anggur bercampur Zaanzabil (jahe?)… 76:17
Air mancur di Surga disebut Salsabil...76:18
Penghuni Surga dikelilingi pelayan anak2 laki muda yang tak pernah tua yang tampak bagaikan mutiara yang bertaburan...76:19
Di Surga terdapat berbagai kenikmatan ... 76:20
Sutra hijau halus dengan gelang perak dan minuman anggur yang bersih ...76:21


Neraka Menurut Qur’an

Penyembah saingan Allah akan dipisahkan dari pengikut2nya dan akan dimasukkan ke Neraka...2:166
Allah memasukkan rasa takut di hati kafir; mereka akan jadi penghuni Neraka...3:151
Neraka Jahanam adalah tempat yang paling buruk ...3:162
Penghuni Neraka akan dihina; tiada penolong bagi mereka...3:192
Neraka Jahanam penuh api yang menyala-nyala…4:55
Kafir akan dibakar di Neraka, kulit mereka akan hangus, tapi diganti dengan kulit baru yang kemudian dibakar hangus lagi...4:56
Kafir akan minum air mendidih di Neraka...6:70
Setiap penghuni Neraka baru akan menyalahkan kakek moyang mereka yang mengakibatkan mereka masuk Neraka; siksaan Neraka berlipat ganda bagi mereka yang menyesatkan orang lain...7:38 Allah telah membuat banyak jin dan manusia sebagai penghuni Neraka; mereka lebih buruk daripada binatang ternak...7:179
Kafir akan dibakar di Neraka...14:29
Ada tujuh pintu gerbang Neraka, dan tiap2 pintu ditetapkan untuk golongan tertentu... 15:44
Neraka adalah penjara bagi kafir...17:8
Barang siapa menghendaki kemewahan duniawi, maka Allah berikan padanya; tapi lalu Allah akan memasukkan mereka ke Neraka...17:18
Kafir akan diseret mukanya ke dalam Neraka dalam keadaan buta, bisu, dan pekak di Hari Kiamat; Allah akan menambah lagi nyala api Neraka Jahanam...17:97
Neraka Jahanam adalah tempat tinggal orang2 kafir...18:102
Kafir akan diseret mukanya ke dalam Neraka...25:34
Zaqqum adalah pohon berbuah pahit bagi kafir di Neraka... 37:62
Zaqqum tumbuh dari dasar Neraka... 37:64
Para kafir akan dikumpulkan untuk dimasukkan ke Neraka; pintu2 akan dibuka, penjaga2 akan ditanyai tentang rasul2 yang telah dikirim... 39:71
Firaun dan pengikutnya akan dimasukkan ke dalam api Neraka di pagi dan petang hari...40:46 Penghuni Neraka memohon pada penjaga Neraka agar hukuman mereka diperingan sedikitnya sehari saja...40:49
Penjaga Neraka menegur penghuni Neraka karena tidak taat pada Rasul2 yang dikirim bagi mereka di dunia... 40:50
Allah akan menegur orang2 Kristen di Neraka: Manakah berhala2 yang kau imani dulu itu?... 40:73
Para kafir akan bertanya pada Malik, sang penjaga Neraka, untuk membunuh mereka dengan ijin Allah; tapi Malik menjawab bahwa mereka akan tetap diam di Neraka selamanya... 43:77
Allah bertanya apakah Neraka sudah penuh atau belum; Neraka minta tambahan penghuni Neraka...50:30
Kafir akan diberi hidangan air mendidih dan dibakar dalam Neraka...56:93, 94
Satu2nya makanan Neraka adalah darah dan nanah... 69:36
Untuk dapat ke luar dari Neraka, para pendosa menawarkan anak2, istri, saudara2 mereka… semuanya yang ada di bumi; tapi tawaran ini tidak diterima Allah, dan gejolak api Neraka akan mengelupas kulit kepala mereka...70:11-16
Jin2 kafir dan penyembah berhala adalah bahan bakar Neraka...72:15
Api Neraka mengubah warna kulit...74:27-29
Bagi para kafir, Allah telah menyediakan rantai, belenggu, dan Neraka yang menyala-nyala…76:4
Tiada kesejukan dan minuman di Neraka…. 78:24

Untuk mempersingkat, aku tidak menyertakan kisah2 sejarah dalam Qur’an yang tidak diragukan lagi memang didengar Muhammad dari Salman. Mohon luangkan waktu untuk membaca hal ini dalam Qur’an dan kau tentunya akan menemukan bahwa kisah2 itu jelas dikarang manusia belaka dan bukan ditulis Allah.


Bahira

Bahira adalah pendeta Kristen Nestoria yang hidup di Sham (Syria). Nama Kristennya adalah Sergius atau Georgius. Kabarnya dia diusir dari biara Syrian karena melakukan sesuatu pelanggaran. Untuk menebus kesalahannya, dia melakukan missi agama ke Arabia. Di Mekah dia bertemu Muhammad dan menjadi akrab dengannya dan tinggal bersamanya. Dia sering berbicara dengan Muhammad dan tentunya juga menyampaikan berbagai keterangan tentang agama Kristen. Banyak ayat2 Qur’an yang berkaitan dengan agama Kristen dan ini tentunya berasal dari Bahira sang pendeta. Muhammad hanya menulis ulang keterangan itu dengan bantuan para juru tulis dan pengumpul ayat Qur’an-nya.

Tampaknya ayat2 Qur’an dari Mazmur yang ditulis Daud sebenarnya merupakan sumbangan dari Bahira. Inilah ayat2 tersebut:
Q 4:163
Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.

Q 17:55
Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan kami berikan Zabur (kepada) Daud.

Q 21:105
Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lohmahfuz, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.

Bahkan Kamus Islam (hal. 698) menyatakan bahwa Q 21:105 merupakan kutipan langsung dari Mazmur 37:29

Ini beberapa contoh lain ayat2 yang disumbang oleh Bahira:
Bahkan ketika Muhammad membenarkan kitab2 mereka, para Yahudi dan Kristen tetap saja menolak Muhammad… Q 2:101
Kaum Yahudi dan Kristen bertengkar satu sama lain meskipun mereka mempelajari buku yang sama; Allah akan mengadili mereka...2:113
Tuhan Islam, Yahudi dan Kristen adalah Tuhan yang sama, jadi jangan berdebat tentang hal ini…. 2:139
Kaum Yahudi dan Kristen diajak untuk percaya pada Kitab Allah untuk menetapkan hukum diantara mereka...3:23
Beberapa Yahudi dan Kristen mengubah kitab suci mereka dan mengatakanya sebagai firman Allah... 3:78
Beberapa Yahudi dan Kristen percaya pada jibt dan thagut yang merupakan kekuatan jahat...4:51
Orang2 Kristen lupa akan peringatan Allah sehingga Allah mengutuk mereka dengan kebencian dan permusuhan diantara mereka...5:14
Sebagian orang Kristen menjalankan Taurta, Injil, dan Al Qur’an secara benar, tapi kebanyakan tidak...5:66
Pengikut Isa adalah Muslim dan agama mereka adalah Islam…. 5:111
Muhammad belajar dari orang2 Yahudi dan Kristen; Qur’an berisi pesan2 dari buku2 Yahudi dan Kristen...10:94-95
Beberapa orang2 Yahudi dan Kristen sebenarnya adalah Muslim dan mereka percaya pada Qur’an... 28:53
Berdebatlah dengan cara yang baik dengan Ahli Kitab; para Muslim percaya bahwa Qur’an adalah seperti buku suci lainnya yang dikirim Allah; Tuhan orang2 Muslim, Yahudi, dan Kristen adalah Tuhan yang sama... 29:46
Allah memberikan Injil pada Isa dan menganugerahkan santun dan kasih sayang pada para pengikutnya; Allah tidak mewajibkan mereka melakukan rahbaniyyah...57:27

Tidak ada keterangan jelas mengapa Bahira dikeluarkan dari gereja Syria. Apakah itu mungkin karena pandangan Kristennya dianggap sebagai hujatan di gereja Nestoria? Apakah karena dia melakukan tindakan kriminal? Tiada yang tahu pasti. Yang jelas, Muhammad dapat segudang ilmu tentang agama Kristen (yang bid’ah atau yang diakui) dari pendeta Kristen ini yang kemudian memberi masukan ke dalam Qur’an.

Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa Qur’an menjelaskan bahwa Muhammad sendiri sebenarnya diajar oleh seorang asing tapi Allah mencoba menyangkal hal ini dengan menyatakan bahwa bahasa Muhammad dan bahasa orang asing itu berbeda! Hal ini jelas salah karena pada kenyataannya Muhammad sendiri pergi ke Sham (Syria), lalu bertemu Bahira dan Muhammad tidak menemui kesukaran bercakap-cakap dengannya. Inilah ayat yang menunjukkan Muhammad diajar oleh seorang asing:
Q 16:103
Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: "Sesungguhnya Al Qur'an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)". Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa Ajam, sedang Al Qur'an adalah dalam bahasa Arab yang terang.

Jabr

Kamus Islam [28] menyatakan bahwa Jabr adalah seorang dari Ahlu-l-Kitab (Ahli Kitab) dan sangat berpengetahuan tentang Taurat dan Injil. Muhammad dulu sering mendengarkan dia membaca Taurat dan Injil sewaktu melalui rumahnya. Muhammad tentunya telah belajar dari Jabr tentang tradisi Kristen dan Yahudi sehingga hal itu tercantum pula dalam Qur’an-nya. Besar kemungkinan bahwa ayat2 tentang Daud dan Salomo disusun oleh Jabr. Beberapa ayat tersebut adalah sebagai berikut (hanya pesan utama yang ditulis di sini; silakan periksa Qur’an untuk membaca ayat lengkapnya):

Daud membunuh Jalut...2:251
Allah memberi Daud kitab Zabur...4:163
Allah itu membeda-bedakan; dia melebihkan sebagian nabi dari yang lain; dia memberi Zabur pada Daud... 17:55
Allah menyaksikan keputusan Daud dan Sulaiman... 21:78
Allah memberi Sulaiman pengetahuan; Allah membuat gunung2 dan burung untuk bertasbih bersama Daud... 21:79
Allah mengajar Daud membuat baju besi... 21:80
Sebelum Qur'an, Allah memberi Zabur pada Daud...21:105
Allah memberi ilmu pada Daud dan Sulaiman... 27:15
Ayah Sulaiman adalah Daud. Sulaiman adalah pewaris takhta Daud; Sulaiman mengerti bahasa burung, binatang2 dan tanaman2... 27:16
Sulaiman berkuasa atas jin2, para jin dan burung2 ikut berperang dalam tentara Sulaiman... 27:17
Allah membuat gunung2 tunduk di bawah perintah Daud; mengajarkan Daud untuk membuat senjata dari besi... 34:10-11
Allah membuat gunung2 tunduk di bawah perintah Daud, burung2 melayani Daud, dan Allah memberinya hikmah dan kebijaksanaan... 38:18-20
Allah mengampuni dosa2 Daud...38:25
Allah membuat Daud jadi khalifah (penguasa) bumi dan memberinya kekuasaan menerapkan keputusan adil berdasarkan hukum Allah ... 38:26


Ibn Qumta

Ibn Qumta adalah budak Kristen yang hidup di Mekah. Muhammad belajar tentang Injil Kristen yang menyimpang (seperti Injil tentang Masa Kanak2 Yesus dan Injil Barnabas) dari dia. Seluruh Sura Maryam dan kelahiran Yesus Kristus (atau Isa) di Sura 19 kemungkinan besar ditulis oleh budak Kristen ini. Dengan mengutip Wakidi, Alphonso Mingana, dalam tulisannya yang berjudul The Transmission of the Koran menulis: [29]
Sejarawan yang lebih kuno yakni Wakidi menyatakan bahwa 'Abdallah b. Sa'd b. Abi Sarh dan budak Kristen bernama ibn Qumta berperan dalam penulisan Qur’an. Dan ibn Abi Sarh kembali dan berkata pada masyarakat Quraish: “Ternyata hanya budak Kristen saja yang mengajar dia (Muhammad); aku dulu biasa menulis baginya dan mengubah tulisan sebagaimana kehendakku.”

Perlu diketahui bahwa Abdallah b. Sa'd b Abi Sarh adalah juru tulis kepercayaan Muhammad. Ketika Muhammad hijrah ke Medina, Abdallah mengikutinya. Pada saat Muhammad kesurupan, dia akan mengimlakan pada Abdallah kalimat2 yang harus ditulis. Ketika Abdallah memberi saran untuk mengubah kalimat2 tersebut, Muhammad dengan cepat setuju. Contohnya bisa dilihat di
Q 23:12-14.
[12] Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
[13] Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
[14] Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.


Ketika Abdallah memberi saran untuk mengubah ayat terakhir, Muhammad dengan cepat setuju dengannya. Ini mengakibatkan Abdallah curiga pada pengakuan Muhammad menerima wahyu dari Allah. Abdallah lalu murtad dan meninggalkan Medina untuk kembali ke Mekah. Di Mekah dia mengumumkan bahwa dia sendiri juga bisa dengan mudah menulis ayat2 Qur’an dengan inspirasi dari Allah.

Mendengar hal itu, Muhammad sangat murka dan minta pertolongan Allah. Dengan sigapnya Allah menurunkan Q 6:93 yang mengutuk siapapun yang berani mengaku dapat inspirasi dari Allah.
Ini ayatnya:
Q 6:93
Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah". Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang lalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu". Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.

Ketika akhirnya Muhammad berhasil menaklukkan Mekah, dia mengincar 8 orang Mekah (atau 10 orang, yakni 6 pria dan 4 wanita menurut Ibn Sa’d [30]) untuk dibunuh meskipun mereka mencoba berlindung di Ka’bah. Abdallah adalah satu dari orang2 yang diincar Muhammad.

Bahkan Sahih Bukhari juga mengakui bahwa orang Kristen menulis sebagian dari Qur’an. Penulis Kristen ini sudah jelas adalah ibn Qumta. Ini hadisnya tentang orang Kristen yang lalu memluk Islam dan menulis wahyu Muhammad; lalu balik lagi memeluk Kristen dan menuduh Muhammad tidak tahu apa2 dan dialah sebenarnya yang menulis Qur’an bagi Muhammad; ketika orang ini mati tubuhnya berulang kali ditolak kubur…
Hadis Sahih Bukhari, Volume 4, Buku 56, Nomer 814:
Dikisahkan oleh Anas:
Ada seorang Kristen yang memeluk Islam dan membaca Sura Al-Baqara dan Al-Imran, dan dia dulu biasa menulis wahyu bagi Muhammad. Setelah itu dia kembali ke agama Kristen dan dia sering berkata: “Muhammad tidak tahu apa2, tapi akulah yang menuliskan wahyu baginya.” Lalu Allah menyebabkannya mati, dan orang2 lalu menguburnya, tapi di pagi hari mereka melihat bahwa bumi telah melempar tubuhnya ke luar liang kubur. Mereka berkata, “Ini jelas perbuatan Muhammad dan pengikutnya. Mereka menggali kubur orang ini dan mengambil jenazahnya ke luar karena orang ini telah melarikan diri dari mereka.” Lalu mereka menggali kubur yang dalam baginya, tapi di pagi hari mereka lagi2 melihat bumi telah melemparkan jenazah itu ke luar liang kubur. Mereka berkata, “Ini adalah perbuatan Muhammad dan pengikutnya. Mereka menggali kubur orang ini dan melempar jenazahnya ke luar karena orang ini telah melarikan diri dari mereka.” Mereka lalu menggali kubur sedalam yang mereka bisa lakukan, tapi di pagi hari mereka lagi2 melihat bumi telah melemparkan jenazah ke luar liang kubur. Karenanya mereka percaya apa yang terjadi pada orang itu tidak mungkin dilakukan manusia biasa dan mereka harus membiarkan jenazahnya di atas tanah.


------------
Abul Kasem writes from Sydney. His e-mail address is abul88@hotmail.com
Footnotes for Part 2
[25] Hughes Dictionary of Islam, p.282
[26] Ibn Ishaq, p.652
[27] The Reliance of the Traveller, p.1093
[28] Hughes Dictionary of Islam, p.223
[29] Alphonso Mingana, The Transmission of the Koran, The Origins of The Koran, p.103
[30] Ibn Sa'd vol. ii, p.165

(bersambung ke bagian 3)

Siapakah Penulis Qur'an ? bag 1



Sumber : http://www.islam-watch.org/AbulKasem/WhoAuthoredQuran/who_authored_the_quran.htm
Penulis : Oleh Abul Kasem

"Jika seseorang mulai dengan kepastian, dia akan mengakhiri dengan keraguan; tapi jika dia merasa puas untuk memulai dengan keraguan, maka dia akan mengakhiri dengan kepastian” - Francis Bacon (1561-1626) [1]

[Peringatan: Isi artikel ini dapat menyinggung perasaan sebagian pembaca. Penulis tidak bertanggungjawab jika pembaca merasa tersinggung karena membaca tulisan ini. Silakan baca tapi tanggung resiko sendiri]

Garis Besar

Tulisan ini meneliti penulis buku suci Islam yakni Al-Qur’an. Yang dilakukan di sini adalah cara baru mengamati Qur’an. Dengan menggunakan pemikiran yang masuk akal dan referensi sejarah yang ada tentang penulisan Qur’an, maka muncul sebuah kesimpulan. Cara penelitian seperti ini sangat bertentangan dengan iman buta para Muslim yang menerima begitu saja keaslian Qur’an tanpa pernah mempertanyakannya. Dengan mengamati, memilah, dan dengan seksama mengartikan isi Qur’an, ahadis (perbuatan dan perkataan Muhammad) dan Sirah Rasul Allah (kisah hidup Muhammad, ditulis oleh Ibn Ishaq), maka penulis dapat menentukan beberapa orang yang secara tak dapat disangkal lagi telah menyumbang pembuatan komposisi ayat2 Qur’an. Bukan Allah yang menulis Qur’an; bahkan bukan Muhammad sendiri yang menulis Qur’an. Qur’an tidak diciptakan oleh satu makhluk atau orang saja. Ada beberapa kelompok orang yang ikut membuat komposisi, tulisan, perbaikan, masukan dan bahkan menghapus ayat2 Qur’an. Orang2 terpenting yang terlibat dalam pembuatan Qur’an adalah: Imrul Qays, Zayd b. Amr, Hasan b. Thabit, Salman, Bahira, ibn Qumta, Waraqa dan Ubayy b. Ka'b. Muhammad sendiri terlibat dalam membuat sejumlah kecil ayat2, tapi orang yang paling berpengaruh dalam memotivasi Muhammad untuk menciptakan Islam dan penulisan Qur’an tampaknya adalah Zayd b. Amr, yang suka berkhotbah tentang ‘Hanifisme’. Muhammad kemudian mengubah ‘Hanifisme’ milik Zayd menjadi Islam. Dengan demikian, pengertian bahwa Islam bukanlah agama baru memang sudah jelas nyata. Akan tetapi, penemuan yang penting adalah bahwa Qur’an dengan tegas bukan merupakan firman Allah – tapi merupakan karangan manusia yang secara biasa disampaikan Muhammad sebagai firman Allah bagi manusia. Hal lain yang penting dalam tulisan ini adalah bahwa diantara agama2 kuno yang berhubungan dengan Qur’an, yang tampaknya paling utama adalah praktek ibadah agama Sabean. Malah kenyataannya, ibadah sholat 5 kali sehari dan puasa 30 hari (dua pilar utama dari lima pilar Islam) sebenarnya diambil dari agama orang2 Sabean. Sebenarnya Qur'an adalah kumpulan ibadah dari berbagai buku2 agama yang ada di jaman Muhammad. Muhammad, dan bukan Allah, dengan cara sederhana mengambil dan memilih dari berbagai sumber untuk menciptakan Qur'an. Meskipun banyak orang yang menyumbang dalam proses penulisan Qur'an, secara jelas Muhammad berperan sebagai editor utamanya.

Pendahuluan

Menurut Islam, mempertanyakan kemutlakan Qur’an ditulis Allah merupakan penghujatan yang serius. Seorang Muslim dapat menghadapi hukuman mati hanya karena memiliki keraguan sebesar atom tentang keaslian Qur’an. Qur’an itu di atas segalanya. Tiada ciptaan Allah yang lebih suci dibandingkan Qur’an. Akan tetapi, dasar manusia selalu ingin tahu, aku mulai meragukan keaslian Qur’an sejak kecil – ketika aku mulai membacanya dalam suasana yang sangat formal melafalkan ayat2 Qur’an. Aku menghabiskan waktu dua tahun belajar mengenai beberapa ayat2 dasar di bawah bimbingan seorang Hujur (ustad) di mesjid lokal. Sang Hujur mengajarkan Qur’an kepada sekelompok murid2 termasuk diriku sambil memegang sebuah rotan yang tampak berkilauan karena dia sering meminyakinya sebelum murid2 tiba di mesjid. Tiada seorang pun dari kami yang suka belajar Qur’an – pelajaran ini paling membosankan dan tugas yang terberat dalam masa kanak2 kami. Kami hanya menghafal saja bagaikan burung beo beberapa ayat tanpa mengerti satupun hurufnya. Sang Hujur juga ternyata tidak mengerti makna ayat2 tersebut. Bilamana kami bertanya tentang suatu ayat, jawabannya adalah beberapa sabetan rotan dari Hujur. Belajar melafalkan Qur’an identik dengan penindasan kejam terhadap anak2. Karena itu, diam2 kami menyimpan rasa tidak suka khususnya akan pelafalan Qur’an dan umumnya benci pada para Mullah.

Di kemudian hari, setelah aku lulus perguruan tinggi dan mulai bekerja, seorang kolegaku menunjukkan padaku sebuah Qur’an berbahasa Inggris yang diterjemahkan oleh Abdullah Yusuf Ali. Kolegaku ini adalah Tabligi (orang relijius yang suka berdakwah) tulen dan membujukku untuk membaca terjemahan Qur’an ini dengan seksama. Dia berjanji bahwa setelah aku mengerti pesan utama kitab suci Qur’an, maka hidupku akan berubah sama sekali – jadi lebih baik, katanya. Dengan ragu aku mulai membaca Qur’an bahasa Inggris itu – ayat demi ayat, sura demi sura. Semakin aku banyak membaca, semakin terkejut diriku. Hatiku merasa terganggu, kaget, bingung, dan penuh amarah. Aku tidak percaya bahwa buku yang seharusnya dikarang oleh Allah yang paling penuh kasih sayang, paling pengampun, dan paling pemaaf ternyata berisi banyak sekali kebencian, teror, perintah pembunuhan, perang, balas dendam dan di atas semuanya, perintah untuk menghancurkan semua yang tidak sesuai dengan pandangan Qur’an di dunia. Tentu saja memang ada beberapa ayat2 yang sangat puitis, ditulis dengan indah, ritmis, dan kadangkala penuh makna spiritual. Tapi terlepas dari beberapa ayat ‘bagus’ ini, aku menemukan sejumlah besar bagian Qur’an tidak masuk akal dan tidak layak diterapkan seperti misalnya ayat2 yang menyuruh Muslim membunuh dan melakukan perang Jihad terhadap non-Muslim. Aku mulai bertanya: bagaimana mungkin Allah yang penuh ampuh dan penuh kasih sayang itu bisa menulis buku kebencian yang sebagian besar berisi sampah dan manual teror, perang, dan penjarahan? Ketika kolega Tabligi-ku bertanya bagaimana keadaan diriku setelah membaca Qur’an, aku jawab baik2 saja – dan lalu memperluas percakapan dengan mengatakan bahwa aku menemukan hal2 yang mengejutkan dalam Qur’an yang tadinya tidak aku ketahui. Dia hanya tersenyum dan berkata, “Qur’an itu hebat ya?” Kujawab, “Iya! Sungguh mencengangkan, tidak salah lagi.”

Beberapa tahun kemudian, aku mulai merenungkan Qur’an. Dengan membaca terjemahan orang lain dan juga Tafsir, aku membaca dan membaca ulang Qur’an – beberapa kali agar aku yakin yang mereka terjemahkan dan terangkan memang benar2 tepat. Semakin jauh mempelajari Qur’an, diriku semakin bingung, terganggu, dan marah – marah, karena aku merasa benar2 kecewa terhadap agama pembunuhan yang dipaksakan pada diriku hanya karena aku lahir sebagai Muslim. Hal yang kubaca dalam Qur’an mengejutkanku begitu rupa sehingga aku ingin dapat jawaban pertanyaan ini: SIAPAKAH YANG MENULIS QUR’AN? Aku butuh waktu lama bertahun-tahun bekerja keras untuk mendapatkan jawaban pertanyaanku itu. Tulisan ini mencoba menjawab pertanyaan itu. Aku telah merencanakan menulis ini jauh hari. Sekarang setelah tulisan selesai dibuat, giliran kalian untuk mempertanyakan: Siapakah yang Menulis Qur’an?

Selama masa penyelidikan, aku menemukan ternyata banyak orang yang terlibat dalam pengumpulan dan penyusunan Qur’an. Terdapat banyak sekali bukti yang secara tegas menyangkal Qur’an ditulis oleh Allah dan bukti2 ini terpendam dalam Qur’an, ahadis, dan Sirah, dan kebanyakan Muslim tidak mengetahuinya. Pernyataan Allah menulis Qur’an, kupikir merupakan kebohongan utama pada umat manusia selama lebih dari seribu tahun. Kita bahkan dapat mengatakan secara tegas bahwa Muhammad tidak sendirian dalam menulis Qur’an. Pada kenyataannya, sebagian besar Qur’an disusun atau digagasi dan ditulis oleh beberapa orang. Orang2 yang paling utama diantaranya adalah:

Imrul Qays – penyair Arabia kuno yang mati beberapa dekade sebelum Muhammad lahir
Zayd b. Amr b. Naufal – ‘murtad’ dari agama pagan Quraish, lalu berkhotbah tentang Hanifisme
Labid – penyair lain Hasan b. Thabit – penulis syair resmi bagi Muhammad
Salman, orang Persia – penasehat dan orang kepercayaan Muhammad
Bahira – pendeta Kristen Nestoria dari gereja Syria
Jabr – tetangga Muhammad yang beragama Kristen
Ibn Qumta – budak yang beragama Kristen
Khadijah – istri pertama Muhammad
Waraqa – saudara sepupu Khadijah
Ubay b. Ka'b – sekretaris Muhammad dan juru tulis Qur'an
Muhammad sendiri

Kelompok lain yang juga berpengaruh adalah:
Umat Sabi
Aisha – pengantin kanak2 Muhammad
Abdallah b. Salam b. al-Harith – orang Yahudi yang beralih ke Islam
Mukhyariq – seorang Rabbi dan orang Yahudi yang beralih ke Islam

Tentu saja daftarku tentang para pengarang Qur’an tidak terbatas pada nama2 di atas saja. Ada banyak kelompok lain yang juga terlibat yang mungkin belum pernah kudengar. Tapi untuk diskusi singkat, daftar di atas sudah cukup memadai. Dalam tulisan ini aku akan menyebutkan satu per satu sumbangan mereka dalam penulisan Qur’an.

Untung mengerti tentang Qur’an dan penulis2nya, pertama-tama kita harus tahu latar belakang Muhammad, yang dianggap Muslim sebagai ciptaan Allah terbaik.

Agama asli Muhammad adalah Paganisme

Sudah merupakan fakta mutlak bahwa Muhammad lahir dari orangtua pagan. Ayahnya yang bernama Abdullah dan ibunya Amina merupakan orang2 pagan dan biasa menyembah berhala2. Di sepanjang masa mudanya (mungkin sampai usia remaja), Muhammad beribadah agama pagan. Di jaman sekarang, para Muslim sangat sukar menerima kenyataan ini. Latar belakang pagan Muhammad ditulis oleh Hisham ibn al-Kalbi di Kitab al-Asnam (The Book of Idols), hal. 17 [2]:
‘Kami diberitahu bahwa Rasul Allah pernah menyinggung hal tentang al-‘Uzza dan katanya, “Aku telah mempersembahkan domba putih kepada al-‘Uzza, ketika aku masih menjadi pengikut agama masyarakatku.”

Dalam perkataannya di atas Muhammad dengan jelas mengakui masalalunya sebagai penganut paganisme – yang merupakan agama kaum Quraish.

Awalnya, Muhammad bahkan memuji-muji pentingnya dewa2 (atau berhala2) kaum pagan dengan menyatakan setuju dengna kaum Quraish bahwa dewa2 mereka merupakan wakil Allah. Di halaman yang sama Hisham ibn al-Kalbi menulis: [3]

Orang2 Quraish berjalan mengelilingi Ka’bah dan berkata:
Demi Allat dan al-‘Uzza,
Dan Manah, sang berhala ketiga.
Memang benar kalian adalah wanita2 yang paling mulia
Yang amanatnya didambakan.

Selain Allat juga terdapat “Anak2 Perempuan Allah,” yang dianggap sebagai wakil Tuhan. Ini ayat2 yang diterima Rasul Allah tentang mereka:

053.019
Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza,
053.020
dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?
053.021
Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?
053.022
Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.
053.023
Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. [4]

Ketika Muhammad beranjak dewasa dan mulai menghadiri pertemuan tahunan para penyair di Ukaz, dia sangat terpesona dan tergugah oleh pikiran2, kemahiran bicara, perasaan, kemerdekaan berpikir dan humanisme yang dinyatakan oleh para penyair di situ. Dia mulai mempertanyakan ibadah penyembahan berhala dan mulai berkhotbah konsep baru Tuhan yang Esa, Tuhan sang Pencipta – serupa dengan konsep keTuhanan agama orang2 Yahudi dan Kristen saat itu. Meskipun begitu, dia bingung Tuhan mana sebenarnya yang dia sembah. Allah (sang Dewa Bulan – inilah sebabnya Islam menggunakan simbol bulan dan simbol ini tertera di setiap mesjid) merupakan Tuhan yang paling utama bagi kaum pagan. Tapi selain menyembah Allah, kaum pagan juga menyembah illah2 atau wakil2 lain dari Tuhan, yakni dewa2 yang lebih rendah kedudukannya seperti: Hubal, Al-lat, Al-Uzza, Manat, dll. Karena itulah awalnya Muhammad tidak menggunakan nama Allah sebagai Tuhan yang disembahnya. Lagipula, pada saat itu segala tukang sihir, dukun, tabib, dan penyembah setan juga terbiasa untuk bersumpah dalam nama Allah. Semua ini membuat Muhammad menolak memilih Allah sebagai Tuhannya.

Pada saat yang sama di jaman itu, masyarakat Yemen memuja Tuhan lain yang bernama Ar-Rahman. Awalnya Muhammad mengadopsi nama Ar-Rahman sebagai Tuhan utama. Kebetulan orang Yahudi pun menggungakan kata Rahmana sebagai Tuhan dalam masa penulisan Talmud. [5] Muhammad dengan cerdik berpikir jika dia menggunakan nama Ar-Rahman maka dia bisa menarik orang2 Yahudi dan orang2 pagan untuk memeluk agama barunya. Mohon diperhatikan bahwa dalam Qur’an Allah tidak pernah berkata dia punya 99 nama lain, termasuk Ar-Rahman.

Tatkala Muhammad mengumumkan dirinya sebagai Rasul Ar-Rahman, masyarakat pagan Quraish di Mekah jadi bingung dan tidak mengerti. Mereka hanya kenal satu Ar-Rahman, yakni Ar-Rahman yang dipuja masyarakat al-Yamamah atau Yemen (beberapa penulis lain menyatakan Ar-Rahman berada di Yemen). Untuk memeriksa pernyataan Muhammad, masyarakat Quraish mengirim sekelompok utusan untuk bertemu dengan masyarakat Yahudi Medina, karena mereka benar2 menyangka bahwa Ar-Rahman adalah Tuhan di Yemen atau Yamamah. Ahli sejarah Islam Ibn Sa’d menulis: [6]
”Masyarakat Quraish mengirim al-Nadr Ibn al-Harith Ibn 'Alaqamah dan 'Uqbah Ibn abi Mu'ayt dan beberapa lainnya untuk bertemu dengan orang2 Yahudi di Yathrib (nama lama Medina) dan berpesan pada mereka untuk menanyakan (kaum Yahudi) tentang Muhammad. Mereka tiba di Medinah dan berkata (pada orang2 Yahudi): Kami datang padamu karena terdapat masalah besar di tempat kami tinggal. Ada seorang yatim piatu sederhana yang menyatakan pengakuan besar, menganggap dirinya Rasul al-Rahman, padahal kami tidak kenal al-Rahman lain selain Rahman dari al-Yamamah. Mereka (orang2 Yahudi) berkata: Beri perincian tentang dia pada kami. Mereka (orang2 Quraish) memberi perincian tentang dia, dan lalu mereka ditanya tentang pengikut2nya (Muhammad). Mereka berkata: Pengikutnya adalah orang2 rendahan dari masyarakat kami. Mendengar itu, seorang ahli dari mereka (orang2 Yahudi) tertawa dan berkata: dia adalah Nabi yang kita temukan dinyatakan dalam kitab2 suci kami; kami juga tahu bahwa masyarakatnya adalah kaum yang paling menentangnya.”

Jika kita baca secara obyektif, dalam 50 sura pertama (dalam kronologi yang benar) di Qur’an tampak kebingungan Muhammad tentang Tuhan, Allah dan Ar-Rahman. Dia sangat tidak yakin siapa yang dianggapnya sebagai Tuhannya (Illahnya). Ini kesimpulan dari 50 Sura pertama mengenai pengertian Muhammad tentang Tuhan:

Tuhan yang maha esa - 68, 92, 89, 94, 100, 108, 105, 114, 97, 106, 75 (11 Suras)
Ar-Rahman, Tuhan - 55, 36 (2 Suras)
Ar-Rahman, Allah, Tuhan - 20 Allah, Tuhan - 96, 73, 74, 81, 87, 53, 85, 50, 38, 7, 72, 25, 35, 56, 26, 27, 28, 17 (18 Suras) Sura2 ini menunjukkan pada awalnya Muhammad tidak pasti, bingung dan tidak mengerti tentang Tuhan (Illah)-nya sendiri.

Qur’an juga menegaskan bahwa ketika dia mulai berkhotbah tentang kepercayaan barunya, Muhammad salah mengerti, bingung dan tidak tahu banyak tentang agama. Inilah yang tertulis dalam Qur’an: Muhammad bingung, lalu Allah membimbingnya ... 93:7
093.007
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.

Di masa lalu Muhammad tidak tahu apa2 ... 12:3, 42:52
012.003
Kami menceriterakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.
042.052
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Jadi bagaimana awalnya Muhammad belajar tentang dasar2 agama barunya? Masuklah Imrul Qais dan Zayd Ibn Amr dalam hidupnya.

Imrul Qays

Dalam masyarakat Arabia kuno, syair merupakan hal yang sangat disukai. Penulis syair punya kedudukan tinggi dalam masyarakat, dan kata2 penyair termashyur dianggap sama pentingnya seperti firman Tuhan. Di daerah gurun pasir yang tidak nyaman dan tidak punya banyak jenis hiburan, masyarakat kuno Arab terbiasa merasa damai, tenang, tenteram dan bahkan juga perasaan dendam dan keinginan berperang melalui kata2 mempesona yang dirangkai oleh penyair2 mereka. Para penyair menyuplai kebutuhan rohani masyarakat Arab. Ayat2 syair dari tujuh penyair dicantumkan secara permanen di tembok2 Ka’bah. Ayat2 syair ini dikenal sebagai Muallakat.

Dalam kamus Islam [7] tertulis bahwa ayat2 syair ini dikenal juga sebagai Muzahhabat atau syair2 emas, karena huruf2nya ditulis dengan tinta emas. Para penulis syair2 indah ini adalah: Zuhair, Trafah, Imrul Qays, Amru ibn Kulsum, al-Haris, Antarah dan Labid.

Dari antara ketujuh penyair ternama ini, yang paling terkenal adalah Imrul Qays, yang tidak disangkal lagi merupakan ‘raja’ atau ‘legenda’ syair Arab. Dia adalah seorang pangeran, karena ayahnya adalah Raja sebuah suku Arab. Karena kecintaan dan baktinya terhadap syair, ayahnya merasa jengkel dan membuangnya dari istana. Setelah itu, dia hidup seorang diri dengan menggembalakan domba dan terus menulis syair. Akhirnya dia menjadi pengembara dan hidupnya menjadi nelangsa setelah sukunya nyaris punah dalam perang antar suku. Dia mengembara ke mana2 dan akhirnya tiba di Konstantinopel. Dikabarkan bahwa dia dihukum mati oleh penguasa Romawi di Konstantinopel karena dia membuat seorang putri kerajaan jatuh cinta melalui kasih dan puisinya. Dia wafat di sekitar tahun 530-540 M, sebelum Muhammad lahir. Syair2nya yang tiada bandingnya diucapkan oleh banyak orang2 Arab, dan sudah jelas Muhammad hafal banyak syair2 Imrul Qays yang hebat. Dikatakan bahwa Muhammad sendiri berkata bahwa Imrul Qays merupakan penyair terbesar Arabia. Tidak diragukan bahwa Muhammad terpengaruh meniru syair2 Imrul Qays dalam ayat2 awal Qur’an.

Catatan sejarah Qur’an biasanya menulis Sura al-Alaq (Sura 96) sebagai wahyu pertama Allah pada Muhammad. Akan tetapi pengamatan seksama terhadap Qur’an menunjukkan bahwa hal ini tidak benar. Malah kamus Islam [8] dengan mengutip dari sumber2 Islam menyatakan bahwa Sura2 pertama (sebelum Sura 96 diwahyukan) adalah:

99 - az-Zalzalah (Gempa)
103 - al-Asr (Masa)
100 - al-Adiyat (Berlari Kencang)
1 - al-Fatiha (Pembuka)

Sura2 ini pendek, punya nilai spiritual dalam, dan mempesona. Coba lihat contoh dua Sura berikut:
Sura 99 (Gempa)
099.001
Apabila bumi digegarkan dengan gegaran yang sedahsyat-dahsyatnya,
099.002
Serta bumi itu mengeluarkan segala isinya,
099.003
Dan berkatalah manusia (dengan perasaan gerun): Apa yang sudah terjadi kepada bumi?
099.004
hari itu bumi pun menceritakan khabar beritanya:
099.006
Pada hari itu manusia akan keluar berselerak (dari kubur masing-masing) untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) amal-amal mereka.
099.007
Maka sesiapa berbuat kebajikan seberat zarah, nescaya akan dilihatnya (dalam surat amalnya)!
099.008
Dan sesiapa berbuat kejahatan seberat zarah, nescaya akan dilihatnya (dalam surat amalnya)!

Sura 103 (Masa)
103.001
Demi Masa!
103.002
Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian;
103.003
Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan sabar.

W. St. Calir-Tisdall, pengarang buku terkenal Asal Usul Islam (The Origin of Islam) [9] membandingkan dua bagian dari Sabaa Mu'allaqat, dan mendapatkan keserupaan dengan ayat2 Qur’an. Contohnya adalah ayat2 Qur’an berikut:

054.001
Telah hampir saat (kedatangan hari kiamat) dan terbelahlah bulan.
093.001
Demi waktu Duha.

Tentang Q 54.1 W. St. Clair-Tisdall menulis: [10]
‘Sudah merupakan kebiasaan jaman itu bagi para pengkhotbah untuk menggantungkan tulisan mereka di Ka’ba; dan sekarang kita tahu ada tujuh Mu'allaqat yang ditempel di sana. Kita diberitahu bahwa Fatima, anak perempuan Muhammad, pada suatu hari berjalan sambil melafalkan 54.1. Pada saat itu dia berjumpa dengan anak perempuan Imrul Qays yang berkata padanya, “Oh, ternyata itulah yang dicuri ayahmu dari salah satu syair2 ayahku, dan menyebutnya sebagai wahyu yang turun padanya dari surga;” dan kisah ini lalu tersebar diantara orang2 Arab sampai sekarang.’

Hubungan antara syair2 Imrul Qays dan beberapa ayat awal Qur’an sangatlah jelas. Mengenai hal ini dijabarkan W. St. Clair-Tisdall elaborates lebih lanjut: [11]
“Hubungan antara syair Imra'ul Qays dan Qur’an begitu jelas sehingga kaum Muslim dapat membayangkan melihat syair yang sama tercantum dalam Qur’an di surga abadi. Bagaimana Muslim bisa menjelaskan hal ini? Apakah mereka bisa menyatakan bahwa kata2 itu diambil dari Qur’an dan masuk ke dalam syair Imrul? Ini tidak mungkin. Atau bisakah mereka menjawab bahwa penulis syair bukan Imra'ul Qays, tapi orang lain, yang setelah Qur’an diwahyukan, berani mencurinya dan memasukkannya ke dalam syair Imra'ul Qays? Ini pun tidak mungkin dibuktikan!”

Pada kenyataannya, firman Allah yang sama tercantum pula di Muallaqat dan juga di Diwan dalam syair karangan Labid. Maka jika Muslim mengatakan bahwa Qur’an adalah firman Allah, apakah ini berarti Allah mencontek ayat2 Qur’an dari Imrul Qays?

Mari sekarang kita bahas sumbangan Zayd ibn Amr pada penulisan Qur’an


Zayd bin Amr bin Naufal

Di masa Muhammad, terjadi gerakan agama menentang paganisme. Gerakan agama ini dipimpin oleh sekelompok pemikir bebas (freethinkers), yang menolak paganisme, dan memenuhi kebutuhan spiritual mereka dengan mencari agama lain. Mereka dikenal sebagai kaum Hanifit atau Hanif.

Kamus Islam [12] menulis bahwa makna asli Hanif adalah orang yang beralih kepercayaan atau orang yang berubah haluan (serupa artinya dengan murtad). Makna lain dari Hanif adalah:
. Penganut Islam yang takwa
. Penganut kepercayaan orthodox
3. Penganut agama Abraham

W. St. Clair-Tisdall [13] menulis:
‘Kata Hanif, memang aslinya berarti “kotor” atau “murtad,” dan kata ini digunakan oleh masyarakat pagan Arab bagi Zaid, karena dia meninggalkan kepercayaan menyembah dewa2.’

Muhammad kemudian menggunakan kata Hanif, pertama-tama bagi agama Abraham, lalu bagi umat Islam yang takwa. Karena itu, para Muslim adalah para Hanif – atau mereka adalah, kalau mau jujur nih, pengikut2 Zayd! Di tulisan yang sama, W. St. Clair-Tisdal (ibid) menulis lebih jauh, “Kata itu menyenangkan Muhammad dan digunakan olehnya sebagai kata bermakna baik.” [14]

Menurut Ibn Ishaq [15] para murtadin (Hanifs) terkenal di Mekah pada jaman Muhammad adalah:
Waraqa b. Naufal: murtad dari Paganisme dan jadi Kristen
Ubaydullah b. Jahsh: murtad dari Paganisme dan jadi Kristen setelah pergi ke Abyssinia. Istrinya adalah Umm Habiba d. Abu Sufyan yang nantinya dikawini oleh Muhammad.
Uthman b. al-Huwayrith. Dia nantinya pergi menghadap kaisar Byzantium dan jadi Kristen.
Zayd b. Amr b. Naufal: murtad dari Paganisme dan lalu menyembah Tuhan-nya Abraham.

Waraqa adalah saudara sepupu Khadijah, yang adalah istri pertama Muhammad. Beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa dia adalah penganut Yudaisme sebelum jadi Kristen. Ubaydullah adalah cucu dari Abd al-Muttalib dan Uthman b. al-Huwayrith ditawari kedudukan tinggi di pengadilan Byzantium di Syria.

Hanya Zayd b. Amr yang tetap jadi penganut Hanif yang taat. Dia biasa berkata, “Aku menyembah Tuhan-nya Abraham,” tapi dia menyalahkan jemaatnya karena memilih jalan hidup yang jahat. [16]

Menurut W. St. Clair-Tisdal [17] Zayd setahun sekali berziarah di sebuah gua dekat Mekah. Tidak dapat disangkal lagi pengaruhnya terhadap Muhammad yang juga mengunjungi gua yang sama untuk merasakan ketenangan dalam kesendirian.

Ibn Ishaq menulis [18] bahwa ketika Zayd b. Amr menghadap Ka’bah dia biasa berkata ‘Labbaka dalam kebenaran, dalam ibadah, dan dalam pelayanan.’

Ketika Zayd berdiri dan menghadap Qibla, dia akan berkata (ibid), "Aku berlindung pada tempat Abraham berlindung.”

Zayd juga mengecam persembahan binatang untuk dewa2 dan mengutuk kaum pagan yang mengubur bayi2 perempuan (ini kukira adalah hal yang sangat jarang terjadi – karena tidak satu pun penguburan bayi perempuan yang dinyatakan dalam Qur’an atau dalam ahadis: buku2 ini secara samar menerangkan tentang praktek ibadah paganisme tanpa menyebut satu pun kasus penguburan hidup2).

Anak perempuan Abu Bakr yakni Amina suatu kali melihat Zayd bin ‘Amr yang sangat tua di Ka’bah. Tentang hal ini, Ibn Ishaq menulis: [19]
'Hisham b. Urwa dari ayahnya dan atas ijin ibunya, Asma d. Abu Bakr berkata bahwa dia melihat Zayd sewaktu telah sangat tua menyenderkan punggungnya di Ka’bah dan berkata, ‘O Quraish, demi Dia yang tangannya memegang jiwa Zayd, tiada seorang pun dari kalian yang mengikuti agama Abraham selain diriku.’ Lalu katanya: ‘O Tuhan, jika aku tahu bagaimana kau ingin disembah, maka aku akan menyembahmu dengan cara itu; tapi aku tidak tahu.’ Maka dia bersujud bertopang tapak tangannya.’

Catatan sejarah tidak menyatakan dengan jelas apa yang terjadi dengan Zayd b. Amr. Akan tetapi, Ibn Ishaq menulis bahwa ayah Kalifah Umar yakni al-Khattab (Umar b. al-Khattab adalah keponakan Zayd) dulu biasa menyakiti Zayd b. Amr dengan hebat dan dia akhirnya dibunuh. Tidak jelas siapa yang membunuh Zayd. Inilah yang ditulis Ibn Ishaq: [20]
“Ketika al-Khattab (ayah Umar) menyakiti Zayd bin ‘Amr sedemikian rupa sehingga dia terpaksa melarikan diri ke daerah di atas Mekah dan dia berhenti di gunung Hira yang menghadap kota. Zayd hanya bisa mengunjungi Mekah diam2.
Lalu Zayd meninggalkan Mekah untuk mencari agama Abraham – dia pergi sampai Syria. Lalu Zayd kembali mengunjungi Mekah dan dia dibunuh.”

Seperti yang telah diterangkan sebelumnya, karena Zayd b. Amr bertekad memeluk kepercayaan Hanifite tanpa kompromi dan mengritik agama paganisme yang dianut kaum Quraish, maka dia diusir dari Mekah dan dilarang untuk hidup di sana. Dia diasingkan, diboikot dan ditolak oleh sebagian besar masyarakat Quraish. Dia harus hidup di dalam gua di Gunung Hira yang terletak di sebelah utara Mekah. Muhammad yang juga ditolak masyarakatnya pada saat itu juga sering bertemu dengan Zayd di gua Hira.

Ibn Ishaq juga menulis bahwa malaikat Jibril sering mengunjungi Muhammad di gua Hira. Jika kita mengamati keterangan2 di mana Muhammad mengaku bahwa Jibril seringkali menemuinya dalam bentuk manusia biasa, dapat diduga bahwa ketika Muhammad sering bertemu Zayd b. Amr untuk belajar agama Hanif, dia mungkin mengira Zaybe adalah malaikat Jibril. Ada kemungkinan pula Zayd b. Amr mengajarkan Muhammad membaca (dan menulis) syair atau ayat2 yang nantinya jadi ayat2 Qur’an!

Ibn Ishaq menulis [21] bahwa Muhammad biasa sembahyang seorang diri di Hira setiap tahun selama sebulan untuk melakukan 'tahnanuth' yang merupakan ibadah pagan (dan ini menegaskan sekali lagi akan latar belakang agama pagan yang dianut Muhammad). Menurut masyarakat Quraish, 'tahnanuth' berarti pengabdian agamawi.

Sahih Bukhari membenarkan bahwa Muhammad bertemu dengan Zayd b. Amr di lembah Gunung Hira.

Muhammad bertemu Zayd b. ‘Amr dan menawarkannya daging yang dipotong bagi berhala2 (Sahih Bukhari, 7.67.407, 5.58.169)

Volume 7, Book 67, Number 407:
Dikisahkan oleh 'Abdullah:
Rasul Allah berkata bahwa dia bertemu Zaid bin ‘Amr b. Nufail di tempat dekat Baldah dan ini terjadi sebelum Rasul Allah menerima wahyu illahi. Rasul Allah menawarkan masakan daging (yang telah ditawarkan padanya oleh orang2 pagan) kepada Zaid bin ‘Amr, tapi Zaid menolak memakannya dan lalu berkata (pada orang2 pagan), “Aku tidak makan apa yang kau sembelih di atas mezbahmu (Ansabs) dan aku pun tidak makan kecuali bila nama Allah disebut pada saat penyembelihan.”

Volume 5, Book 58, Number 169:
Dikisahkan oleh 'Abdullah bin 'Umar:
Sang Nabi bertemu Zaid bin ‘Amr bin Nufail di dasar (lembah) Baldah sebelum wahyu illahi diterima sang Nabi. Makanan ditawarkan pada sang Nabi tapi dia menolak memakannya. (Lalu makanan itu ditawarkan kepada Zaid) yang berkata, “Aku tidak makan apapun yang kau sembelih dalam nama dewa2 batumu. Aku tidak makan apapun kecuali bila nama Allah disebut pada saat penyembelihan.” Zaid bin ‘Amr sering mengritik cara kaum Quraish menyembelih binatang2 mereka, dan biasa berkata, “Allah telah menciptakan domba dan Dia telah mengirim air baginya dari langit, dan Dia telah menumbuhkan rumput baginya dari bumi; tapi kau menyembelihnya dengan nama lain selain nama Allah. Dia biasa berkata begitu, karena dia menolak cara itu dan menganggapnya sebagai penghujatan.

Dikisahkan oleh Ibn ‘Umar: Zaid bin ‘Amr bin Nufail pergi ke Sham, menyatakan agama yang benar untuk diikuti. Dia bertemu ahli agama Yahudi dan bertanya tentang agamanya. Dia berkata, “Aku ingin memeluk agamamu, jadi mohon terangkan tentang agamamu padaku.” Orang Yahudi itu berkata, “Kau tidak akan memeluk agama kami kecuali kau ditimpa kemarahan Allah.” Zaid berkata, “Aku tidak akan lari kecuali dari kemarahan Allah, dan aku tidak akan mampu menanggungnya jika aku punya kemampuan untuk menghindarinya. Dapatkah menjelaskan padaku agama yang lain?” Dia berkata, “Aku tidak tahu agama lain kecuali agama Hanif.” Zaid bertanya, “Apakah Hanif itu?” Dia berkata, “Hanif adalah agama (nabi) Abraham yang bukan Yahudi ataupun Kristen, dan dia dulu menyembah tak lain selain Allah (saja).” Lalu Zaid pergi dan bertemu dengan ahli agama Kristen dan menanyakan hal yang sama. Orang Kristen itu berkata, “Kau tidak akan memeluk agamaku kecuali jika kau dapat kutukan Allah.” Zaid menjawab, “Aku tidak lari kecuali dari kutukan Allah, dan aku tidak akan dapat menanggung kutukan Allah dan kemarahannya jika aku mampu menghindarinya. Sudikah kau mengatakan padaku tentang agama lain?” Dia menjawab, “Aku tidak tahu agama lain kecuali agama Hanif.” Zaid bertanya, “Apakah Hanif itu?” Dia menjawab, “Hanif adalah agama (nabi) Abraham yang bukan Yahudi ataupun Kristen dan dia menyembah tak lain selain Allah (saja).” Ketika Zaid mendengar penjelasan mereka tentang (agama) Abraham, dia meninggalkan tempat itu, dan ketika dia ke luar, dia menaikkan kedua tangannya ke atas dan berkata, “O Allah! Aku menjadikanMu saksiku bahwa aku mengikuti agama Abraham.”

Dikisahkan oleh Asma bint Abi Bakr: Aku melihat Zaid bin Amr bin Nufail berdiri dengan punggung bersandar pada Ka’ba dan berkata, “Wahai masyarakat Quraish! Demi Allah, tidak seorang pun dari kalian yang mengikuti agama Abraham kecuali diriku.” Dia sering menyelamatkan nyawa anak2 perempuan kecil: Jika seseorang ingin membunuh anak perempuannya, dia akan berkata padanya, “Jangan bunuh dia karena aku akan memberinya makan mewakili dirimu.” Maka dia lalu mengambil anak perempuan itu, dan anak itu tumbuh sehat, dan dia lalu akan berkata pada ayah anak itu, “Sekarang jika kau menginginkan anakmu, aku akan memberikannya padamu, dan jika kau mau, aku akan memberinya makan mewakili dirimu.”

Hadis pertama memberi keterangan tentang agama pagan Muhammad – bahwa awalnya, dia mungkin memakan daging binatang persembahan bagi berhala2 yang disembah kaum pagan (dan ini membenarkan yang ditulis Hisham ibn al-Kalbi), tapi Zayd b. Amr dengan tegas menolak makan daging persembahan bagi para berhala. Muhammad belajar dari Zayd untuk tidak makan daging persembahan bagi berhala (daging haram). Hadis ke dua bertentangan dengan hadis pertama (7.67.407) tentang Muhammad memakan daging haram. Akan tetapi, sedikit pengamatan akan hadis ini menunjukkan bahwa Muhammad mengikuti pandangan Zayd mengenai daging yang halal, dan dari Zayd dia mendapatkan gagasan tentang Allah untuk menjadi Tuhan yang disembahnya. Dengan begitu, tidakkah kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ide Islam sebenarnya berasal dari Zayd? Dalam biografi Muhammad yang ditulis oleh Ibn Ishaq [22] kita temukan ayat2 syair yang ditulis oleh Zayd yang serupa dengan ayat2 Qur’an. Karena itu pula, dapat dikatakan bahwa setelah kematian Zayd yang tiba2 dan misterius, Muhammad mengambil mantelnya, filosofinya, syairnya, dan tugas untuk promosi agama ‘Hanif’. [Untuk melihat contoh ayat2 yang ditulis dalam puisi Zayd dan perbandingannya dengan ayat2 Qur’an, silakan baca appendix.]

Ibn Sa’d menulis [23] bahwa ketika Muhammad memulai agama Islamnya, seorang mualaf berkata pada Muhammad tentang kata2 Zayd ibn Amr dan Muhammad menjawab, “Aku telah melihat dia di surga menggambar baju2nya.” Ini membuktikan pengakuan Muhammad akan sumbangan Zayd terhadap konsep Islam atau Hanifisme.

Tulisan berikut [24] dari ahli sejarah Islam Ibn Sa’d menunjukkan lebih jauh bahwa Muhammad mendapatkan ide tentang Islam dari Zayb b. Amr:
“Zayb Ibn ‘Amr Ibn Nufayl berkata: aku memeriksa agama Kristen dan Yudaisme tapi aku tidak suka. Aku pergi ke Syria dan daerah sekitarnya sampai aku merasa asing terhadap masyarakatku dan aku membenci penyembahan berhala, Yudaisme, dan Kristen. Dia berkata padaku: Aku melihat kau mencari agama Ibrahim. Wahai saudaraku orang Mekah! Kau mencari keyakinan yang tidak lagi dipraktekkan saat ini. Itu adalah keyakinan moyangmu, Ibrahim, dan itulah iman yang sejati. Dia (Ibrahim) bukanlah orang Yahudi maupun orang Kristen. Dia biasa melalukan sholat dan bersujud menghadap rumah ini (Ka’bah) yang terletak di kotamu. Jadi kembalilah ke kotamu. Dia akan mendirikan kembali keyakinan asli Ibrahim dan dia adalah orang yang paling dihormati diantara2 makhluk2 ciptaan Allah.”

Tampak jelas bahwa Zayd sendiri menulis beberapa Sura (mungkin sampai 30 Sura, tapi tidak dalam kronologi yang teratur), termasuk Sura2 yang mengandung penjelasan tentang agama Hanif Abraham. Beberapa ayatnya sebagai berikut:

002.135
Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk". Katakanlah: "Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik". [Qur'an Arab mengatakan Haneefan – catatanku sendiri]

003.067
Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. [Qur'an Arab mengatakan Haneefan – catatanku sendiri]

003.095
Katakanlah: "Benarlah (apa yang difirmankan) Allah". Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. Qur'an Arab mengatakan Haneefan – catatanku sendiri]

004.125
Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. [Qur'an Arab mengatakan Haneefan – catatanku sendiri]

006.161
Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik". [Qur'an Arab mengatakan Haneefan – catatanku sendiri]

006.079
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. [Qur'an Arab mengatakan Haneefan – catatanku sendiri]

016.120
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan h anif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), [Qur'an Arab mengatakan Haneefan – catatanku sendiri]

010.105
dan (aku telah diperintah): "Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. [Qur'an Arab mengatakan Haneefan – catatanku sendiri]

022.031
dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. [Qur'an Arab mengatakan Haneefan – catatanku sendiri]

098.005
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. [Qur'an Arab mengatakan Haneefan – catatanku sendiri]

030.030
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, [Qur'an Arab mengatakan Haneefan – catatanku sendiri]

Seperti yang telah disebut sebelumnya, Zayd ibn Amr sangat menentang praktek agama pagan yang mengubur hidup2 bayi2 perempuan. Qur’an menyebut praktek langka yang dilakukan masyarakat Quraish hanya dalam tiga ayat saja. Inilah ayatnya:

016.058
Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.

017.031
Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami lah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. 081.008 apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, 081.009 karena dosa apakah dia dibunuh,

Sudah jelas bahwa ayat2 di atas berasal dari Zayd b. Amr dan tampaknya ditulisnya sendiri pula. Setelah Zayd mati, Muhammad mengakuinya sebagai wahyu Allah padanya.

Contoh2 di atas menunjukkan bahwa Muhammad punya jiplakan kisah2, konsep2 dan gaya Zayd ibn Amr dalam komposisi Qur’an.

===========================================


Abul Kasem writes from Sydney. His e-mail address is abul88@hotmail.com

Footnotes for Part 1
[1] Quoted from Milestones of Science by Curt Suplee, p.70, published by the National Geographic Society, 2000
[2] Hisham al-Kalbi, Kitab al-Asnam, p.17
[3] Ibid
[4] Ibid
[5] Noldeke: The Koran, The Origins of the Koran, p.53
[6] Ibn Sa'd, vol.i, pp.189-190
[7] Hughe's Dictionary of Islam, p.460
[8] Ibid, p.485
[9] The Origins of the Koran, pp.235-236
[10] Ibid
[11] The Origins of the Koran, p.236
[12] Hughes Dictionary of Islam, pp.161-162
[13] The Sources of Islam, The Origins of the Koran, p.289
[14] Ibid
[15] Ibn Ishaq, p.99
[16] ibid, p.287
[17] The Sources of Islam, The Origins of the Koran, pp.229-230
[18] Ibn Ishaq, pp.99-100
[19] Ibid
[20] Ibn Ishaq, p.102
[21] Ibn Ishaq, p.105 [22] Ibn Ishaq, pp.100-102
[23] Ibn Sa'd, vol.i, p.185
[24] Ibn Sa'd, vol.i, p.185 Bersambung ke Bagian II dan III


Disadurkan oleh : Adadeh
Sumber : http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=17393
Posted: Thu Sep 06, 2007 12:18 pm

(bersambung ke bagian 2)

Selasa, 18 Desember 2007

KEBOHONGAN KLAIM KEAJAIBAN AL-QUR'AN

Tulisan ini sudah pernah saya postingkan di FFI yang lama. Dalam tulisan kali ini saya tambahkan beberapa material yang tidak ada diposting yang lalu.

Sebagian dari tulisan ini diterjemahkan dari tulisan Sam Shamoun di Answering Islam yang berjudul Respons to 7 Wonders of Qur’an yang merupakan bantahan terhadap tulisan dari Dr. Jamal Badawi. Dr. Jamal Badawi adalah salah satu tokoh Apologetic Islam yang terkemuka di Amerika. Dia berpendapat ada 7 bukti (no. 2 –8 )tentang keajaiban Qur’an yang membuktikan bahwa Qur’an berasal dari Allah dan Muhammad adalah UtusanNya. Dalam tulisan ini akan dibahas 9 klaim keajaiban Al-Qur’an.

Klaim-klaim terhadap keajaiban al-Qur’an tersebut adalah :

1. AL-QUR’AN TETAP SAMA DARI JAMAN MUHAMMAD HINGGA SEKARANG (tambahan)

Pendapat bahwa Al-Qur’an yang sekarang adalah sama persis dengan apa yang dibacakan oleh Muhammad SAW adalah klaim bohong. Klaim ini sengaja dibuat oleh ulama-ulama muslim dengan mengesampingkan laporan-laporan kuno dan sejarah perkembangan Al-Qur’an itu sendiri. Namun ada juga sumber kritis yang mau mengakui kebohongan klaim tersebut.

Sumber : http://www.submission.org/quran/warsh.html

Are all the Arabic versions of the Quran the same ? By Said Abdo and Khalil Uthman Detroit, Michigan, USA

These scholars were unaware of the true miracle of the Quran and therefore made up lies about the prophet and even claimed him miracles that he never performed. One of the famous misinformation spread by these scholars is that all the Qurans in the world are identical, and that it is free from any variation. This is not true and has nothing to do with God's promise in verse15:9. Although the Christian missionaries like to attack the Quran for such variations they only show their ignorance with the Quran and its miracle.

Pakar-pakar ini tidaklah menyadari akan keajaiban sebenarnya dari qur’an sehingga MEMBUAT KEBOHONGAN TENTANG NABI DAN MENGKLAIM ADANYA MUJIZAT YANG TIDAK PERNAH DILAKUKAN NABI. Salah satu PENYESATAN INFORMASI OLEH PAKAR-PAKAR INI ADALAH PERNYATAAN BAHWA QUR’AN DISELURUH DUNIA ADALAH SAMA, TIDAK ADA VARIASINYA SAMA SEKALI. INI TIDAKLAH BENAR dan tidak ada hubungannya dengan janji Allah dalam QS 15 : 9. Sekalipun misionaris Kristen menyukai untuk menyerang qur’an karena variasi bacaan tersebut, itu hanyalah menunjukkan ketidaktahuan mereka tentang qur’an dan keajaibannya.

Berikut ini diberikan beberapa kutipan bahwa Al-Qur’an tidaklah sama sejak jaman nabi Muhammad SAW hingga tahun 1924 saat distandarisasi kesekian kalinya.

• PADA JAMAN NABI HIDUP, AL-QUR’AN TIDAKLAH SAMA
Kutipan dari :
Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an
DR Subhi As Shalih
Pustaka Firdaus, Jakarta, 2001, halaman 119

Diceritakan tentang percekcokan Umar bin Khatab dengan Hisyam bin Hakim sbb :

Pada suatu hari semasa Rasulullah masih hidup, aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca SURAH AL FURQAAN. Aku mendengarkan baik-baik bacaannya. Tapi tiba-tiba ia membaca BEBERAPA HURUF YANG TIDAK PERNAH DIBACAKAN RASULULLAH kepadaku sehingga hampir saja ia kuserang ketika ia sedang shalat. Akhirnya kutunggu ia sampai mengucapkan salam. Setelah itu kutarik bajunya. Aku bertanya kepadanya : “Siapakah yang membacakan surah itu kepadamu?”. IA MENJAWAB, “RASULULLAH YANG MEMBACAKANNYA KEPADAKU.” Kukatakan, “Engkau berdusta! Demi Allah, RASULULLAH TIDAK MEMBACAKAN SURAH ITU KEPADAKU SEPERTI KUDENGAR DARIMU.” Hisyam bin Hakim lalu kuseret menghadap rasulullah dan aku bertanya, “Ya Rasulullah, aku mendengar orang ini membaca surah Al-Furqaan dengan huruf-huruf yang tidak engkau bacakan kepadaku ketika engkau membacakan surah Al-Furqaan kepadaku.!” Rasulullah menjawab, “Hai Umar, lepaskan dia. Hai Hisyam, bacalah.” Hisyam kemudian membaca surah Al-Furqaan sebagaimana yang kudengar tadi. Kemudian rasulullah menanggapinya, “Demikian surah itu diturunkan.”. Beliau melanjutkan, “Qur’an itu diturunkan dalam tujuh huruf, karena itu BACALAH MANA YANG MUDAH DARI AL-QUR’AN.” (Sahih Bukhari VI, hal 185)

Jadi dari hadis diatas terlihat RASULULLAH MENDIKTEKAN SURAH AL-FURQAAN YANG BERBEDA kepada Umar dan Hisyam.

Ini jelas bahwa HAFALAN RASULULLAH TIDAK TEPAT.

Muslim biasanya berargumen bahwa perbedaan hanya sekedar perbedaan dialek. Inipun tidak tepat karena Umar dan Hisyam keduanya adalah ORANG QURAISH dan keduanya konon adalah mereka yang MENDENGAR LANGSUNG rasulullah mendiktekan ayat-ayat Al-Qur'an dalam dialek QURAISH.

Sumber :
Muqadimah Al-Qur’an
Bab Satu, halaman 25

Tugas panitia adalah membukukan al-Qur’an, yakni menyalin dari lembaran-lembaran yang tersebut menjadi buku. Dalam pelaksanaan tugas ini Usman menasihatkan supaya :
a. mengambil pedoman kepada bacaan mereka yang hafal Al-Qur’an
b. kalau ada pertikaian antar mereka tentang bahasa (bacaan), maka haruslah dituliskan dalam menurut DIALEK SUKU QUIRAISY, SEBAB AL-QUR’AN DITURUNKAN MENURUT DIALEK MEREKA

Yang sangat mungkin adalah hadis tentang 7 huruf adalah KEBOHONGAN KEMUDIAN untuk membenarkan adanya perbedaan bacaan tersebut sehingga ada alasan kalau HAFALAN RASULULLAH BERBEDA-BEDA SAAT MENDIKTEKAN KEPADA si A atau si B.

• SETELAH NABI MENINGGAL, AL-QUR’AN TIDAKLAH SAMA
Ini sangat jelas dari alasan Usman membuat satu standar Al-Qur’an yaitu karena ADANYA PERBEDAAN AL-QUR’AN ANTARA PENGIKUT IBN MAS’UD (PRAJURIT IRAK) DAN UBAY BIN KAAB (PRAJURIT SYRIA) sebagaimana dilaporkan oleh Huzaifah bin Yaman

Sumber :
Muqadimah Al-Qur’an
Bab Satu, halaman 25

Beliau ini ikut dalam pertempuran menaklukan Armenia dan Azerbaijan, maka selama dalam perjalanan dia pernah mendengar PERTIKAIAN KAUM MUSLIMIN TENTANG BACAAN BEBERAPA AYAT AL-QUR’AN ……..

Muslim akan berargumen perbedaan hanya dari segi dialek. Namun jelas perbedaan antara mushaf Ibn Mas’ud dan Ubay bin Kaab BUKAN PERBEDAAN DIALEK MELAINKAN PERBEDAAN ISI AL-QUR’AN.

Menurut laporan Suyuthi :
Suyuthi, al Itqan fi Ulum al Quran, vol 1 halaman 224, 226, 270-73

IBN MAS’UD MENOLAK MEMASUKKAN SURAH 1, 113 DAN 114, KARENA SURA-SURA TERSEBUT ADALAH DOA-DOA DAN MANTERA UNTUK MENGUSIR SETAN. Hal ini diperkuat dengan laporan dari al Razi, al Tabari dan Ibn Hajar

Sementara mushaf Ubay bin Kaab, mushaf Ibn Abbas, Abu Musa al Ashari dan Ali bin Abi Thalib justru ada penambahan 2 SURAH YANG UNIKNYA SEKARANG JUSTRU TIDAK ADA DI AL-QUR’AN EDISI KAIRO 1924.

Menurut laporan Suyuthi :
Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 1 hal 227, vol 3 hal 85

Dua surah yang bernama "AL-KHAL" DAN "AL-HAFD" TELAH DITULIS DALAM MUSHAF UBAYY BIN KA'B DAN MUSHAF IBN ABBAS, SESUNGGUHNYA ALI AS MENGAJAR KEDUA SURAH TERSEBUT KEPADA ABDULLAH AL-GHAFIQI, UMAR B. KHATTTAB DAN ABU MUSA AL-ASY'ARI juga membacanya.

Jadi jelas, setelah Muhammad SAW meninggal, mushaf-mushaf sahabat berbeda satu dengan lainnya.

• SETELAH DISTANDARISASI USMAN, AL-QUR’AN MASIH BERBEDA-BEDA.

Mushaf yang distandarisasi oleh Usman ditulis dalam bahasa Arab yang masih sangat sederhana, dimana :
1. Tidak ada tanda baca
2. Tidak ada indikasi huruf hidup
3. Tidak ada pembeda konsonan yang bersimbol sama (15 konsonan bisa dibaca menjadi 28 konsonan yang berbeda)

Karenanya tulisan mushaf Usman tersebut bisa dibaca dengan berbagai macam cara yang berbeda-beda. Tergantung penambahan huruf hidupnya dan penambahan titik diakritis terhadap konsonannya.
Akibatnya timbullah bermacam-macam variasi bacaan, maka lagi-lagi harus dilakukan standarisasi pasca Usman :

Dikutip dari Luthfi A dari Islamlib :
http://islamlib.com/id/page.php?page=article&id=447
Merenungkan Sejarah Alquran

Untuk mengatasi VARIAN-VARIAN BACAAN YANG SEMAKIN LIAR, pada tahun 322 H (944 M), Khalifah Abbasiyah lewat dua orang menterinya Ibn Isa dan Ibn Muqlah, memerintahkan Ibn Mujahid (w. 324 H) melakukan penertiban. SETELAH MEMBANDING-BANDINGKAN SEMUA MUSHAF YANG ADA DI TANGANNYA, Ibn Mujahid memilih tujuh varian bacaan dari para qurra ternama, yakni :
1. Nafi (Madinah)
2. Ibn Kathir (Mekah)
3. Ibn Amir (Syam)
4. Abu Amr (Bashrah)
5. Asim, Hamzah, dan Kisai (ketiganya dari Kufah).
Tindakannya ini berdasarkan hadis Nabi yang mengatakan bahwa “Alquran diturunkan dalam tujuh huruf.”

Adanya perbedaan tulisan Al-Qur’an ini dilaporkan juga oleh seorang ulama yaitu ibn al-Nadim di tahun 988 M.

Sumber :
Fihrist, Ibn al-Nadim, halaman 79
Dalam buku Fihrist, Ibn Al-Nadim menuliskan daftar buku-buku kuno yang membahas tentang perbedaan antar manuskrip qur’an kuno sbb :

Buku Tentang Perbedaan Manuskrip (Qur’an)
• Perbedaan Antara Manuskrip Penduduk Madina, Kufa dan Basrah menurut al Kisai
• Kalaf, Buku Tentang Perbedaan Manuskrip
• Perbedaan antara Penduduk Kufa, Basra dan Siria tentang Manuskrip, karya al Farra
• Perbedaan Antar Manuskrip, karya al Sijistani
• Al Mada’ini tentang perbedaan antar manuskrip dan pengumpulan al Qur’an
• Perbedaan Manuskrip antara Penduduk Syria, Hijaz dan Iraq, karya Ibn Amir al Yashubi
• Buku karya Muhammad ibn ‘Abd Al-Rahman al-Isbahani tentang perbedaan manuskrip

Fakta dimana penambahan huruf hidup dan titik diakritis berbeda-beda antar kota MEMATAHKAN ARGUMEN BAHWA AL-QUR’AN TELAH DIHAFALKAN DENGAN SEMPURNA. Bahkan setelah dibantu dengan tulisan dasarnya, hafalan masing-masing kota ternyata berbeda-beda.

• PENULISAN ULANG DI KAIRO 1923/1924
Upaya terakhir untuk menstandarisasi Al-Qur’an dilakukan di Kairo Mesir ditahun 1923/1924. Satu catatan yang unik adalah mushaf Kairo 1924 ini TIDAK DISUSUN DARI NASKAH KUNO YANG MANAPUN, melainkan DIKLAIM mendasarkan pada murni “HAFALAN”.

Sumber :
The writing of the Quran and the timing of the mathematical miracle
www.submission.org/miracle/writing.html

It was not until the year 1918 when the Muslim scholars, gathered in Cairo, Egypt, and decided to write a standardized edition of the Quran that avoids all the obvious scribes' errors in different editions of the Quran floating in the world and to standardize the numbering f the suras and verses of the Quran. In 1924, they produced the edition of the Quran that later became the standard edition around the world. They depended mainly on the oral transmission of the Quran to correct all the contradiction seen in the different Rasm (Orthography) and numbering of different Qurans

Hingga ditahun 1918 ketika pakar-pakar muslim, berkumpul di Kairo, Mesir dan memutuskan untuk MENULISKAN EDISI STANDARD AL-QUR’AN UNTUK MENGHINDARKAN SEMUA KESALAHAN TULISAN DALAM EDISI AL-QUR’AN YANG SAAT ITU BEREDAR diseluruh dunia dan untuk menstandarkan penomoran surah dan ayat-ayat alQ-ru’an. Di tahun 1924 mereka menerbitkan edisi Al-Qur’an yang kemudian menjadi standar edisi diseluruh dunia. MEREKA SEPENUHNYA MENDASARKAN PADA TRADISI LISAN AL-QUR’AN UNTUK MENGOREKSI SEMUA PERBEDAAN TULISAN DAN PENOMORAN DARI AL-QUR’AN YANG BERBEDA-BEDA.

Ini sangat serius karena menjadikan seluruh TULISAN Al-Qur’an sebelum 1923/1924 adalah SALAH. Salah satu contohnya adalah :

Sumber :
http://www.understanding-islam.com/related/history.asp

5. The Extant Samarkand Codex at Tashkent Many Muslims scholars believe that the Samarkand Codex preserved at the Tashkent Library is the one compiled by ‘Uthman (rta). A close examinatikon of the text of this mushaf has shown that it cannot be – since IT IS DIFFERENT FROM THE CODEX WE HAVE IN OUR HANDS TODAY.

Banyak pakar muslim mempercayai bahwa kodek Samarkand yang disimpan di perpustakaan Tashkent adalah mushaf yang dikumpulkan oleh Usman. Pemeriksaan cermat terhadap teks mushaf ini membuktikan bahwa mushaf ini bukan mushaf asli Usman karena MUSHAF INI BERBEDA DENGAN KODEKS YANG KITA MULIKI SAAT INI.

Jadi klaim muslim bahwa Al-Qur’an selalu sama tidaklah berdasar. Keseragaman teks dan isi Al-Qur’an baru dicapai setelah tahun 1924 dengan diterbitkannya KARANGAN AL-QUR’AN YANG BARU OLEH ULAMA-ULAMA MUSLIM. HASIL KARYA TAHUN 1924 INILAH YANG KEMUDIAN DIKLAIM SAMA DENGAN YANG DIBACA OLEH NABI MUHAMMAD SAW.

2. BUKTI INTERNAL : QUR’AN MENGKLAIM SEBAGAI KALIMAT ALLAH

Argumen bahwa sebuah buku yang mengaku berasal dari Allah adalah cukup sebagai bukti adalah tidak berdasar. Banyak penulis yang akan mampu melakukannya dan membuat klaim yang serupa. Lagipula dalam Qur’an ada bukti ayat yang mengindikasikan bahwa Qur’an bukanlah kalimat Allah :

Contoh kesatu :
QS 27 : 91
AKU HANYA DIPERINTAHKAN UNTUK MENYEMBAH TUHAN NEGERI INI (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.

Jika Allah yang berbicara, maka siapa lagi Tuhan yang dilayaniNya? Jika ayat diatas adalah kalimat malaikat atau Muhammad maka Qur’an tidak dapat dianggap 100% kalimat Allah.

Contoh kedua :
QS 19 : 64 :
DAN TIDAKLAH KAMI (JIBRIL) TURUN, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa.

Terjemahan ditambah kata yang tidak ada yaitu jibril. Jika Allah yang berbicara, maka SIAPA LAGI TUHAN YANG MEMERINTAHKAN ALLAH SWT UNTUK TURUN? Atau jika memang itu kalimat Jibril, maka Qur’an tidak dapat dianggap 100% kalimat Allah.

Contoh ketiga :
QS 113 : 1: Katakanlah : “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh”
QS 114 : 1 : Katakanlah : “Aku berlindung kepada Tuhan manusia”

Jelas kalimat diatas bukanlah kalimat Allah, sehingga oleh editor Al-Qur’an harus ditambahkan KATAKANLAH. Itulah sebabnya ABDULLAH IBN MASUD TIDAK MEMASUKKAN SURAH 113 DAN 114 dengan alasan bahwa sura tersebut berisikan doa yang diucapkan manusia kepada Allah, bukan kalimat Allah yang ditujukan kepada manusia, bahkan dengan penambahan “Katakanlah” sekalipun.

Contoh keempat :
QS 69 : 40 : Sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah benar-benar wahyu (ALLAH YANG DITURUNKAN KEPADA) Rasul yang mulia

Kalimat "ALLAH YANG DITURUNKAN KEPADA" tidak ada dalam Al-Qur'an.

Jadi QS 69 : 40 seharusnya berbunyi :
Sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah benar-benar WAHYU RASUL yang mulia

3. KEJUJURAN DAN INTEGRITAS PENERIMA WAHYU

Bahkan sebelum menjadi nabi, Muhammad telah dipanggil al-amin (Terpuji, Terpercaya dll) karena kejujurannya. Untuk membuktikan integritas Muhammad SAW, muslim sering mengkutip ayat-ayat qur’an dimana Muhammad SAW memohon ampun atas dosa-dosanya. Jika qur’an adalah karangannya, mengapa menggambarkan dirinya sebagai manusia berdosa? Kenapa tidak memuliakan dirinya sendiri seperti orang kristen memuliakan Yesus? Menurut muslim, inilah bukti kebenaran wahyu yang diterima Muhammad SAW dari Allah, dengan mengesampingkan apakah wahyu tersebut menguntungkan atau tidak.

Lagi, argumen yang digunakan tidak tepat karena ini berarti harus menerima seluruh klaim pemimpin dan pendiri agama yang jujur yang mengakui kelemahan manusiawinya. Hal ini mengakibatkan seluruh agama / aliran kepercayaan menjadi memiliki klaim sebagai berasal dari Allah dan berarti benar.

Yang lebih penting lagi, jika argumen ini diterima, berarti muslim harus menerima kebenaran Alkitab dan INTEGRITAS DAN KEJUJURAN ORANG-ORANG YAHUDI KARENA DALAM ALKITAB PENULIS-PENULISNYA MENGGAMBARKAN BEGITU BANYAK SISI-SISI NEGATIF ORANG-ORANG YAHUDI. Tidak masuk akal jika orang-orang Yahudi yang telah mengubah Alkitab ternyata tidak mengubah tulisan-tulisan yang negatif tentang nabi-nabi, raja-raja mereka dan tentang kaum Yahudi sendiri. BAHWA ALKITAB MEMUAT HAL-HAL YANG NEGATIF TENTANG ORANG-ORANG YAHUDI, MEMBUKTIKAN BAHWA ORANG-ORANG YAHUDI SANGAT JUJUR DALAM MENJAGA KEBENARAN ALKITAB KATA DEMI KATA.

Lebih lanjut, ada bukti-bukti dalam qur’an dan hadis yang menyebutkan motif penurunan ayat-ayat dan menunjukkan betapa “integritas” Muhammad SAW dalam hal ini :

• Ketika Muhammad SAW menginginkan istri anak angkatnya, sim salabim, muncullah ayat yang mengenakkan Muhammad SAW :
QS 33 : 37 :
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni'mat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni'mat kepadanya: "Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. MAKA TATKALA ZAID TELAH MENGAKHIRI KEPERLUAN TERHADAP ISTRINYA (MENCERAIKANNYA), KAMI KAWINKAN KAMU DENGAN DIA [1220] supaya tidak ada keberatan bagi orang mu'min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya [1221]. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.

• Ketika Muhammad SAW menginginkan menambah jumlah istrinya, tahu-tahu turunlah wahyu yang selaras dengan keinginannya bahkan sepupunyapun dan semua wanita yang menyerahkan diri kepada Muhammad SAW boleh diperistri.
QS 33 : 50 :
Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) ANAK-ANAK PEREMPUAN DARI SAUDARA LAKI-LAKI BAPAKMU, ANAK-ANAK PEREMPUAN DARI SAUDARA PEREMPUAN BAPAKMU, ANAK-ANAK PEREMPUAN DARI SAUDARA LAKI-LAKI IBUMU DAN ANAK-ANAK PEREMPUAN DARI SAUDARA PEREMPUAN IBUMU yang turut hijrah bersama kamu dan PEREMPUAN MU'MIN YANG MENYERAHKAN DIRINYA kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu'min.

• Dilain kesempatan, wahyu turun membebaskan Muhammad SAW dari sumpah yang dibuatnya terhadap Hafsah saat Hafsah menjumpai Muhammad SAW “tidur” dengan Mary di rumah Hafsah diluar jadual keadilan. Muhammad SAW bersumpah tidak akan menjumpai Mary lagi jika Hafsah tidak membeberkan aib ini. Namun apa lacur, Hafsah menceritakan kejadian ini kepada Aisah yang kemudian mempertanyakannya kepada Muhammad SAW. Maka turunlah wahyu QS 66 : 1 – 3 yang membebaskan Muhammad SAW dari sumpahnya dan memberikan kebebasan kepada Muhammad SAW untuk mengunjungi istri-istrinya sesuai keinginannya.
QS 66 : 1 :
Hai Nabi, MENGAPA KAMU MENGHARAMKAN APA YANG ALLAH HALALKAN BAGIMU; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [1486]. QS 66 : 2 : Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian MEMBEBASKAN DIRI DARI SUMPAHMU [1487] dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. QS 66 : 3 : Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: "Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?" Nabi menjawab: "Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." Umumnya komentator muslim menolak kisah ini karena tidak sesuai dengan “kesucian” Muhammad SAW. Namun apapun alasannya, ayat-ayat ini telah “menyelamatkan” muka Muhammad SAW dari situasi yang sulit dan memalukan. Kita bisa bertanya, apa manfaat dari ayat-ayat diatas selain daripada menyelamatkan muka Muhammad SAW saat beliau membutuhkannya? Apakah kita harus menyimpulkan bahwa ayat-ayat ini telah tertulis di surga bahkan sebelum penciptaan dunia?

• Dalam perjanjian Hudaibiya, MUHAMMAD SAW SETUJU UNTUK MENGEMBALIKAN ORANG-ORANG MEKAH YANG TELAH MENJADI ISLAM KEPADA PIHAK MEKAH dan setuju mengubah statusnya dalam perjanjian dari Muhammad, Rasul Allah menjadi Muhammad, anak Abdullah sebagai ganti dimana Muhammad SAW dan pengikutnya diperbolehkan melakukan ibadah haji ke Mekah pada tahun berikutnya. Salah satu yang dikembalikan kepada pihak Mekah adalah Abu Jandal. Kita bisa membaca kisah ini dalam Sirat Rasul Allah (edisi Inggris) hal 505 dan Bukhari volume 3 no. 891.

Atau sumber berikut :
Sejarah Hidup Muhammad – Sirah Nabawiyah
Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfury
Robbani Press, halaman 500

Abu Jandalpun berteriak sekeras-kerasnya, “Wahai kaum muslimin, apakah aku dikembalikan kepada orang-orang musyrik yang akan menyiksaku karena agamaku?”

Sebagai perbandingan, mungkinkah Musa memiliki pemikiran seperti ini, mengembalikan pengikutnya kepada Firaun sebagai ganti untuk tuntutan Musa? Apakah Yesus pernah mengkompromikan kebenaran dengan menyetujui keinginan Parisi agar mengembalikan pengikut-pengikut Yesus dengan imbalan mendapatkan posisi keagamaan?. Terhadap perjanjian Hudaibiya tersebut, Umar dan banyak muslim sangat marah Kemarahan muslim dapat dimengerti karena Muhammad menjanjikan ibadah haji pada tahun tersebut. Ketika hal ini tidak terealisir, Muhammad SAW mengatakan, “Apakah aku mengatakan bahwa kita akan ke Kabah tahun ini?” Alasan ini jelas dicari-cari karena saat itu kaum muslim tengah dalam perjalanan menuju Mekah saat mereka ditolak oleh penyembah berhala Mekah.

Makanya untuk mengobati kemarahan pengikut-pengikutnya Muhammad SAWpun memerintahkan untuk menghancurkan Yahudi Khaibar dan merampas seluruh kekayaan mereka sebagai kompensasinya.

Diri sendiri yang salah, orang Yahudi yang dikorbankan.

Dari contoh-contoh diatas kita bisa melihat bagaimana “integritas” Muhammad SAW. Makanya tidaklah mengherankan jika Aisyah sendiri merasa heran kenapa Aulloh senantiasa memberikana yang enak-enak buat Muhammad SAW.
Sumber :
Sahih Al-Bukhari, Volume 6, buku 60, Number 311

Narrated Aisha:
I used to look down upon those ladies who had given themselves to Allah's Apostle and I used to say, "Can a lady give herself (to a man)?" But when Allah revealed: "You (O Muhammad) can postpone (the turn of) whom you will of them (your wives), and you may receive any of them whom you will; and there is no blame on you if you invite one whose turn you have set aside (temporarily)." (33.51) I said (to the Prophet), "I feel that your Lord hastens in fulfilling your wishes and desires."

Aku biasa memandang rendah kepada wanita-wanita yang bersedia menyerahkan dirinya kepada Rasulullah dan aku berkata, “Bisakah seorang wanita menyerahkan dirinya kepada seorang laki-laki?”. Tetapi ketika Aulloh berfirman, “Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki diantara mereka (isteri-isterimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu (33 : 51)”. Aku berkata (kepada Rasulullah), “AKU MERASA BAHWA TUHANMU SELALU CEPAT-CEPAT MEMENUHI PERMOHONAN DAN KEINGINANMU”

4. TANTANGAN UNTUK MEMBUAT YANG SERUPA AYAT QUR’AN

Tantangan ini tidak jelas kriterianya. Apa dasar penilaiannya? Apa susahnya membuat ayat-ayat yang serupa Al-Qur’an :

Contoh kesatu :

Demi cahaya menyala-nyala
Sesungguhnya Aku berkata
Kami tidaklah mengutusnya
Dia utusan iblis Hira
Mengujinya berbugil ria.
Tuhan agar mengampuninya

Sudah ada gaya bersumpah ala Allah SWT
Sudah ada pemakaian Aku, Kami dan Tuhannya secara membingungkan
Seluruh ayat terdiri dari 9 suku kata
Terdiri dari 19 kata sesuai dengan klaim keajaiban angka 19
Memiliki rima berakhiran a
Keindahannya hanya dapat dinikmati dalam bahasa Indonesia
Tentang test jibril dengan bugil dapat dibaca di Test Jibril dengan Telanjang ala Muhammad

Atau contoh kedua :

Ingatlah bagaimana babi diciptakan
Dari tetes mani yang memang kelihatan
Terjatuh dalam rongga yang Kami amankan
Sayang terlahir sudah harus diharamkan
Namun Tuhannya bersumpah meyediakan
Babi panggang enak dihari kebangkitan
Disantap bersama anggur yang memabukkan

Sudah ada gaya disuruh mengingat-ingat
Sudah ada keajaiban embriologi ala pengetahuan primitive
Sudah ada kata Kami dan Tuhannya dengan membingungkan
Sudah ada paradoks haram didunia, halal di syurga
Terdiri dari total 91 suku kata, jika dibaca dari kanan ke kiri seperti tulisan Arab berarti 19, memenuhi keajaiban angka 19
Memiliki rima berakhiran kan
Keindahannya hanya dapat dinikmati dalam bahasa Indonesia

Atau contoh ketiga :
Sesungguhnya Kami bersumpah telah memberimu anugerah
Menikahi gadis-gadis cantik jelita yang penuh gairah
Berbaring diatas dipan-dipan yang tersusun dengan mendesah
Kenikmatannya bagaikan makanan tharid seperti Aisyah
Kekhususan ini hanya berlaku bagimu hai nabi Allah
Karena kamu telah berlaku patuh untuk pergi berhijrah
Dibawah ancaman menakutkan tusuk mata hingga bernanah

Sudah ada gaya bersumpah
Setiap kalimat terdiri dari 19 suku kata yang memenuhi keajaiban angka 19
Sudah ada kekususan dalam hal kawin mawin bagi nabi
Sudah ada kontradiksi hijrah harus diancam-ancam
Memiliki rima berakhiran ah
Keindahannya hanya dapat dinikmati dalam bahasa Indonesia

Tentang Tharid pernah diposting sdr. Nomind :
Sahih Bukhari. Volume 4, Book 55, Number 623 : http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/h...tml#004.055.623
Diriwayatkan Abu Musa:
Rasulullah berkata, "Banyak di antara lelaki mencapai (level) kesempurnaan tetapi tidak ada antara wanita yang mencapai levelini kecuali Asia, isteri Pharaoh, and Maryam, anak Imran. Dan tidak ada keraguan, keunggulan Aisha dari wanita lain seperti keunggulan Tharid (i.e. masakan dari daging dan roti) daripada masakan lain."

Tentang hijrah dibawah ancaman pernah diposting sdr. Nomind :

Jika memang benar Muslim di Mekkah di aniaya dan diancam jiwanya seperti pengertian Anda selama ini, mengapa perlu ayat Quran berikut yang mengancam umat Muslim di Mekkah dengan ancaman neraka Jahannam kalo mereka tidak mau meninggalkan Mekkah untuk berhijrah ke Madinah?

Quran 4:97
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah dibumi itu". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali,

Kesulitan satu-satunya dalam membuat buku seperti Al-Qur’an adalah ketidakmampuan manusia untuk mengarang dengan urutan yang tidak runtut dan kacau balau seperti cerita-cerita Al-Qur’an. Setiap orang sejak duduk dibangku Sekolah Dasar sudah diajarkan mengarang dengan runtut waktu dan runtut peristiwa, sehingga tidaklah memungkinkan bagi mereka untuk mengarang dengan urutan yang kacau balau.

Mengatakan bahwa qur’an adalah sebuah buku hasil karya yang luar biasa sehingga dikatakan wahyu Allah adalah tidak masuk akal. Ini menjadikan hasil karya Shakespeare atau epik Gilgamesh adalah wahyu Allah juga. Ini menjadikan penulis Yunani yang buta yaitu Homer juga seorang nabi karena mampu menghasilkan 2 buku yang luar biasa yaitu Illiad dan Odessy. Karya-karya penulis diatas telah teruji oleh waktu dan terus dibaca orang hingga sekarang, namun toh tidak menjadikan Homer atau Shakespeare nabi. Persoalan lain adalah pendapat muslim bahwa keindahan dan keistimewaan qur’an terletak dalam bahasa Arabnya dan tidak dapat dinikmati dalam bahasa lainnya. Jadi Allah telah mewahyukan qur’an dimana keajaibannya hanya dapat dinilai dari bahasa Arabnya saja, membatasi kemampuan Allah dalam mengekspresikan kehendakNya hanya dalam bahasa Arab, bahasa yang justru tidak dimengerti oleh sebagian besar penduduk dunia. Sungguh jauh dari keajaiban.

5. TIDAK ADA KONTRADIKSI INTERNAL.
Beberapa kontradiksi internal dalam qur’an dapat dengan mudah ditemukan. Contohnya :

• Kesatu : Berapa hari penciptaan
Bumi dan langit diciptakan dalam 6 masa
QS 7 : 54 : Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam ENAM MASA, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy [548]. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang
QS 10 : 3 :
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam ENAM MASA, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan

QS 41 : 9 – 12 : dalam 8 masa (2 + 4 + 2)
Katakanlah: "Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam DUA MASA ………Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam EMPAT MASA. …… Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam DUA MASA.

• Kedua : Urutan penciptaan bumi dan langit
Bumi diciptakan dahulu, baru langit.
QS 41 : 10 – 11 :
Dan Dia MENCIPTAKAN DIBUMI itu gunung-gunung …… KEMUDIAN DIA MENUJU KEPADA PENCIPTAAN LANGIT dan langit masih merupakan asap ….

Berkontradiksi dengan : Langit diciptakan dahulu, baru bumi.
QS 79 : 29 – 30 :
Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan BUMI SESUDAH ITU DIHAMPARKANNYA.

Berkontradiksi dengan :
Diciptakan bersama-sama
QS 21 : 30 – 31 :
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasannya LANGIT DAN BUMI ITU KEDUANYA DAHULU ADALAH SUATU YANG PADU, kemudian Kami pisahkan

• Ketiga : Berapa malaikat yang berbicara kepada Maria
QS 3 : 42 dan 45, menyebutkan “the ANGELS said” (jamak, minimal 2 malaikat)
QS 19 : 17 – 18, menyebutkan, “We sent to her our ANGEL (tunggal) and HE (tunggal) appeared before her as A MAN (tunggal)…”

• Keempat : Kadar hari Allah QS 32 : 5 : satu hari = 1000 tahun
QS 70 : 4 : satu hari = 50.000 tahun

• Kelima : Siapa yang dapat diselamatkan
QS 5 : 69 : Sesungguhnya orang-orang MU'MIN, ORANG-ORANG YAHUDI, SHABIIN DAN ORANG-ORANG NASRANI, siapa saja [431] (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

QS 3 : 85 : Barangsiapa mencari agama SELAIN AGAMA ISLAM, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

• Keenam : Allah sebagai pencipta pendosa

Menarik karena ternyata Allah memang menciptakan banyak manusia untuk dimasukkan dalam neraka. Bagaimana mungkin Allah bisa berbuat demikian. Satu ketidakadilan yang luar biasa.

QS 11 : 119 : kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya AKU AKAN MEMENUHI NERAKA JAHANNAM DENGAN JIN DAN MANUSIA (yang durhaka) semuanya.

QS 32 : 13 : Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk, akan tetapi telah tetaplah perkataan dari padaKu: "Sesungguhnya akan AKU PENUHI NERAKA JAHANNAM ITU DENGAN JIN DAN MANUSIA bersama-sama."

QS 7 : 179 : Dan sesungguhnya KAMI JADIKAN UNTUK (ISI NERAKA JAHANNAM) KEBANYAKAN DARI JIN DAN MANUSIA, Sungguh berbeda dengan pengajaran Kristen dimana neraka diciptakan memang bagi setan, bukan diciptakan bagi manusia. Mat 25 : 34, 41 : … “Mari kamu yang diberkati bapaKu, terimalah kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” …… “… enyahlah kedalam api yang kekal yang telah sedia untuk iblis dan malaikat-malaikatnya…..”

6. KETEPATAN NUBUATAN

Klaim bahwa qur’an mengandung puluhan ramalan hanya berdasar impian belaka karena “ramalan-ramalan” tersebut tidak meyakinkan jika dibaca sesuai konteks kalimatnya. Satu-satu ramalan yang “meyakinkan” adalah QS 30 : 2 – 4 yang berbunyi
QS 30 : 2 - 4
Telah dikalahkan bangsa Rumawi [1162], di negeri yang terdekat [1163] dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang [1164] dalam beberapa tahun lagi [1165]. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman,

Ramalan menyatakan bangsa Romawi akan menang terhadap Persia sekalipun pada pertempuran awalnya mengalami kekalahan. Tetapi ada beberapa masalah disini :
• Menurut Yusuf Ali kata yang diterjemahkan sebagai beberapa tahun, "Bidh'un” mengindikasikan waktu 3 – 9 tahun. Sementara menurut sejarah Persia mengalahkan Romawi tahun 614 M atau 615 M, penyerangan balik oleh Romawi dimulai 622 M, kemenangan diraih pada 625 M, menjadikan periode 10 – 12 tahun.
• Teks qur’an yang asli tanpa huruf hidup. Jadi kata Arab SAYAGHLIBUNA, "MEREKA AKAN MENGALAHKAN" DAPAT DENGAN MUDAH DISESUAIKAN DENGAN PERUBAHAN 2 HURUF HIDUP MENJADI SAYUGHLABUNA, YANG BERARTI “MEREKA AKAN DIKALAHKAN”. Karena penambahan huruf hidup baru dilakukan beberapa puluh tahun setelah kejadian ini maka sangat mungkin itu dilakukan untuk menjadikan ayat diatas seolah-olah adalah suatu nubuatan.
• Bagaimanapun juga, “nubuatan” tersebut “digenapi” PADA SAAT MUHAMMAD SAW MASIH HIDUP, SAAT QUR’AN BELUM DIBAKUKAN DAN DIBUKUKAN. Bagaimana ini bisa dikatakan nubuatan?.
• Romawi pada waktu itu sudah menjadi kerajaan Kristen. Kalau Kristen sudah dikafirkan, kenapa kaum beriman (muslim) harus BERGEMBIRA DI HARI KEMENANGAN KAUM KAFIR TERSEBUT??

7. TIDAK ADA KESALAHAN SEJARAH DAN ILMU PENGETAHUAN

Kita bisa melihat banyak kesalahan dalam qur’an, baik sejarah maupun pengetahuan.

• Kesatu : Zulkarnain QS 18 : 83 – 98 menyebutkan seorang tokoh Zul-Qarnayn yang adalah muslim. Menurut tokoh Islam Ibn Hisham dan Al-Tabari Zul-Qarnayn adalah Aleksander Agung. Ironisnys, Aleksander Agung adalah seorang polytheis

• Kedua : Matahari terbenam dalam Lumpur Dalam surah yang sama disebutkan matahari terbenam di lumpur. Sementara dalam QS 36 : 38 dan Bukhari vol 2 hal 743 disebutkan matahari bergerak. Kesimpulannya matahari bergerak hingga terbenam dalam lumpur.

• Ketiga : Orang Samaria dijaman Musa QS 20 : 87, 94 menyebutkan orang Samiri (Samaritan) yang membuat patung anak lembu pada jaman Musa. Padahal kaum Samiri (Samaritan) baru muncul sekitar 600 tahun kemudian setelah kerajaan Israel terpecah 2 sekitar 931 SM menjadi Yehuda di selatan dan Israel di Utara. Oleh raja Omri dari Israel Utara sekitar tahun 879 SM dibangunlah ibu kota baru yaitu kota Samaria yang kemudian memunculkan sebutan orang-orang Samaria.

• Keempat : Penyaliban dijaman Musa QS 7 : 124 Firaun mengancam dengan hukuman penyaliban. Padahal penyaliban tidak dikenal oleh orang-orang Mesir dan baru dipraktekkan sekitar abad ke 6 SM oleh orang Persia dan dipopulerkan oleh orang Romawi mulai abad ke 3 SM. Penyaliban di Mesir baru ada di abad ke 2 SM (1200 tahun setelah Musa) setelah Mesir jatuh ke tangan Romawi.

• Kelima : Nimrod dan Abraham QS 21 : 68 – 69 menyebutkan Abraham dilemparkan dalam nyala api. Menurut tradisi muslim dilakukan oleh Nimrod raja Shinar (Babel), baca juga Kej 10 : 8 – 11. Padahal Nimrod hidup 7 generasi sebelum Abraham.

• Keenam : Masjidil Aqsa dijaman Muhammad SAW QS 17 : 1 menyebutkan Muhammad dibawa ke Masjid al Aqsa (Bait Allah). Persoalannya Bait Allah sudah dihancurkan pasukan Titus pada tahun 70 M. Sementara Masjid al Aqsa baru dibangun tahun 691 M dibawah pengawasan Amir Abdul Malik. Ini jelas mengindikasikan bahwa Al-Qur’an ditulis ulang setelah tahun ini dan menjelaskan kenapa tidak ada satupun mushaf asli Usman yang selamat.

• Ketujuh : Maryam ibu Yesus saudara perempuan Harun Yang paling parah adalah penyebutan Maryam ibu Yesus sebagai saudara perempuan Harun dan anak kandung Imran (S. 3:35; S. 19:28; S. 20:25-30; S. 66:12). Allah SWT mengira bahwa Miryam saudara perempuan Musa dan Harun yang adalah anak Amram adalah sama dengan Maryam ibu Yesus. Padahal antar keduanya ada beda waktu 1400 tahun. Kesalahan ini menjadikan Yesus adalah KEPONAKAN MUSA. Makanya oleh Allah SWT dikira hukuman salib sudah ada dijaman Musa.
¸
• Kedelapan : Tujuh langit dan posisi bulan dan bintang.
QS 71 : 15 – 16 :
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?

Ayat ini sendiri sudah bermasalah, BAGAIMANA MUNGKIN MANUSIA BISA MEMPERHATIKAN ALLAH SWT MENCIPTAKAN 7 LANGIT. Satu pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan karena waktu Allah SWT konon menciptakan langit kan BELUM ADA MANUSIA. Menurut ayat ini, matahari dan bulan diciptakan diantara ke 7 langit tersebut.

Terjemahan bahasa Indonesia sengaja membuat KESALAHAN. Kita lihat perbandingan dengan terjamahan Yusuf Ali :
QS 71 : 15 – 16 :
Do you not see how God has created the seven heavens one above the other, and made THE MOON A LIGHT IN THEIR MIDST (TERJ : DITENGAH-TENGAH 7 LANGIT) , and made the sun as a lamp?

Kenapa harus ada KESALAHAN TERJEMAHAN, karena :
QS 37 : 6 :
Sesungguhnya Kami telah menghias LANGIT YANG TERDEKAT dengan hiasan, yaitu BINTANG-BINTANG,

Jadi menurut Al-Qur’an, bintang-bintang (dilangit terdekat) LEBIH DEKAT ke bumi dibandingkan bulan (dilangit ke 4). Satu kesalahan astronomi yang sangat parah.

• Kesembilan : Langit adalah atap
QS 2 : 22 : Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap

Pemahaman atap ini adalah SEPERTI ATAP TENDA yang terbuat dari sesuatu yang solid dan tidak retak.
QS 50 : 6 :
Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu TIDAK MEMPUNYAI RETAK-RETAK SEDIKITPUN ?

• Kesepuluh : Asal susu sapi
Menurut Al-Quran, susu sapi tercipta dari antara DARAH DAN TAHI. Menjijikkan.
QS 16 : 66 :
Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) SUSU YANG BERSIH ANTARA TAHI DAN DARAH, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.

Bandingkan dengan terjemahan berikut :
"... between EXCRETIONS AND BLOOD ..." Yusuf Ali
"... from betwixt the FECES AND THE BLOOD ..." M. M. Ali-
"... from between EXCRETIONS AND BLOOD ..." M. Taqi-ud Din Al-Hillali - M. Muhsin Khan

• Kesebelas : Yahudi dirubah menjadi monyet dan babi.
QS 2 : 65 :
Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu [59], lalu Kami berfirman kepada mereka: "JADILAH KAMU KERA [60] YANG HINA".
QS 5 : 60 :
Katakanlah: "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang DIJADIKAN KERA DAN BABI [424]

Kapan dalam catatan sejarah terjadi peristiwa ini??.

• Keduabelas : Yesus sudah meninggal atau belum
Dalam QS 19 : 33 dikatakan Yesus berkata “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari AKU DILAHIRKAN, PADA HARI AKU MENINGGAL DAN PADA HARI AKU DIBANGKITKAN hidup kembali".

Penafsiran muslim yang dipaksakan adalah bahwa kematian dan kebangkitan Yesus mengcau pada kedatangan keduanya dimana beliau akan hidup 40 tahun, meninggal dan dibangkitkan. Menurut muslim, Yesus tidak disalibkan melainkan menurut QS 4 : 157 – 159 diangkat hidup-hidup ke surga. Namun TAFSIR MUSLIM BERUBAH 180 DERAJAT pada saat menafsirkan KALIMAT YANG SAMA TENTANG NABI YAHYA dalam QS 19 : 15 : “Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.” Dipercaya bahwa nabi Yahya telah meninggal dan akan dibangkitkan kemudian.

Selain itu dalam QS 19 : 31 dikatakan : "dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) ZAKAT SELAMA AKU HIDUP

Jika Yesus belum meninggal, berarti beliau masih harus terus membayar zakat. DAN KEPADA SIAPA ZAKAT ITU DIBAYARKAN YESUS DI SURGA SELAMA SEKITAR 2000 TAHUN INI??

Itulah sebabnya Yusuf Alipun kebingungan saat menafsirkan ayat QS 19 : 33, dan memberikan catatan : (Ali, The Holy Quran, hal.774, f. 2485)
Christ was not crucified (iv 157). But those who believe that he never died should ponder over this verse.

Kristus tidaklah disalibkan (iv 157). NAMUN MEREKA YANG PERCAYA BAHWA BELIAU TIDAK PERNAH MENIGGAL HARUS MEMPERTIMBANGKAN AYAT INI.

Lebih menarik lagi ketika membaca ayat berikut :
QS. 3 : 144 :
Terjemahan Muhammad Asad
"And Muhammad is only an Apostle; ALL THE [OTHER] APOSTLES HAVE passed away before him..."
Terjemahan Maulvi Sher Ali "verily ALL MESSENGERS HAVE PASSED AWAY before him."
Terjemahan Maulani Muhammad Ali
"messengers have already passed away before him."

Sementara terjemahan Indonesia agak diselewengkan dengan menyatakan :
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh TELAH BERLALU SEBELUMNYA BEBERAPA ORANG RASUL [234]

Kata Arabnya adalah al-russul, yang terjemahannya adalah the messengers, yang berarti tertentu dan jamak, mengindikasikan semua rasul sesuai terjemahan Muhammad Asad dan Maulvi Sher Ali.
Maulani Muhammad Ali (seorang Ahmadiyah) menuliskan :
Ali, Holy Quran [Ahmadiyya Anjuman Isha'at Islam Lahore, inc. U.S.A., 1995], hal 168-169, f. 496)
"... This verse affords a conclusive proof that Jesus Christ was also dead..."
“… AYAT INI MEMBERIKAN BUKTI KONKLUSIF BAHWA YESUS KRISTUS JUGA MENINGGAL …”

8. PENGAMBARAN YANG TEPAT DARI EMBRIOLOGI

Bukti terakhir adalah tentang dituliskannya tahapan embriologi dalam qur’an yang tidak mungkin diketahui pada abad ke 6 M yang disinggung oleh Keith Moore dan Maurice Buchaille.

Buku karya Keith Moore yang berjudul The Developing Human, edisi ke 3 dicetak dalam 2 versi. Versi standard yang digunakan di dunia barat, dan versi Islam yang digunakan dibeberapa negara Islam. Dengan membandingkan kedua versi tersebut, terlihat bahwa Keith Moore sendiri tidak yakin dengan “penemuan ilmiah” dalam qur’an yang akan dapat membahayakan reputasinya sebagai akademisi di dunia barat.

Sebagai contoh :
Pertama :
QS 23 : 14 "Kemudian KAMI menjadikan air mani itu segumpal darah, lalu segumpal darah itu KAMI jadikan segumpal daging …..

Ini jelas salah, karena tidak pernah ada periode dimana sperma atau sel telur yang telah dibuahi oleh sperma berubah menjadi segumpal darah. Uniknya KESALAHAN INI JUGA DISADARI OLEH BUCHAILLE, yang dalam bukunya menyebutkan :

Bucaille, Bible, Quran and Science, halaman 200
The majority of translations describe, for example, man's formation from a 'blood clot' or an 'adhesion.' A statement of this kind is totally unacceptable to scientists specializing in this field.."

Mayoritas terjemahan menuliskan, sebagai contoh, manusia dibentuk dari “segumpal darah” atau “gumpalan”. STATEMEN SEPERTI INI JELAS TIDAK BISA DITERIMA OLEH ILMUWA-ILMUWAN YANG SPESIAL DIBIDANG INI.

Oleh karenanya, BUCHAILLE DENGAN SENGAJA TELAH MENGUSULKAN TERJEMAHAN YANG SALAH YAITU “SESUATU YANG MENEMPEL DI GUMPALAN” yang mengindikasikan fetus menempel di uterus melalui placenta. (halaman 186 – 187)

Ide bahwa manusia berkembang dari gumpalan darah BERASAL DARI ARISTOTELES (322 SM – 384 SM), yang mempercayai bahwa manusia berasal dari sperma yang jatuh ke darah menstruasi wanita. Pandangan inilah yang kemudian diambil oleh Al-Qur’an karena hal inilah yang KELIHATAN OLEH MATA. Wanita setiap bulannya akan mengeluarkan darah mensutruasi sehingga pemikiran Allah SWT / Muhammad SAW menyimpulkan kemudian bahwa manusia berasal dari segumpal darah. Pandangan ini jelas salah. Tidak ada fasenya dimana sperma yang telah membuahi sel telur berubah menjadi segumpal darah. Kejadian ini hanya mungkin terjadi dalam KONDISI JANIN TIDAK BERKEMBANG. Jadi EMBRIO YANG TIDAK BERKEMBANG BERUBAH MENJADI GUMPALAN DARAH. Karena Muhammad memiliki banyak istri, sangat mungkin ada diantara istri-istrinya yang keguguran dan dari pengamatan dari rahim sang istri akan keluarlah gumpalan darah yang adalah embrio yang tidak berkembang.

Kedua :
QS 23 : 14
"Kemudian KAMI menjadikan air mani itu segumpal darah, lalu segumpal darah itu KAMI jadikan segumpal daging, lalu segumpal daging itu KAMI jadikan tulang-tulang, maka KAMI liputi tulang-tulang itu dengan daging, kemudian KAMI menjadikannya satu bentuk yg lain. MAHASUCI ALLAH, sebaik-baik PENCIPTA"

Jadi menurut Al-Qur’an :
Air mani – segumpal darah – segumpal daging – diubah menjadi tulang – meliputi tulang dengan daging – diciptakan bentuk lainnya.

Menurut Prof Keith Moore dalam edisi standardnya, jaringan dimana tulang berasal yaitu mesoderm, adalah jaringan yang sama yang menghasilkan otot dan daging. Jadi tulang dan daging berkembang bersama-sama, bukan tulang dulu baru daging seperti pandangan al-Qur’an. Lagipula pandangan bahwa TULANG DILIPUTI DAGING BERASAL DARI ILMUWAN YUNANI YAITU GALEN DARI PERGAMUS (129 M – 216 M)

Sumber Encyclopaedica Britannica 2003 :
Hingga tahun 500 M hasil karyanya diajarkan dan dirangkum di Alexandria, dan teorinya telah dikutip dibuku-buku medical di Byzantium. Manuskrip Yunaninya dikoleksi dan diterjemahkan dalam bahasa Arab sekitar tahun 850 M oleh Hunayn ibn Ishaq ……

Pengetahuan ini tidaklah istimewa, karena orang-orang kuno juga membuat patung-patung manusia atau binatang dengan teknik yang sama yaitu membuat rangka dengan rangkaian batang kemudian membungkusnya dengan lumpur atau tanah liat. Pengetahuan yang jauh dari ilmiah, melainkan lebih menggambarkan pandangan kuno yang salah.

Ketiga :
Quran 86:5-7
Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.

Jadi menurut Al Quran air mani itu dipancarkan dari antara tulang rusuk dan tulang dada. Padahal kita semua tahu bahwa sel mani di produksi di testis yang jaraknya cukup jauh dari kedua tulang yang dimaksud.

Uniknya pandangan ini tampaknya dicontek dari PENGAJARAN HIPPOCRATES di abad 5 SM (1100 tahun sebelum Muhammad SAW)

Sumber :
Hippocratic Writings
Penguin Classics, 1983, halaman 317-8
“sperma dihasilkan dari semua cairan dalam tubuh, disebarkan dari otak melalui sumsum tulang belakang kemudian melalui ginjal hingga testikel dan organ pria.

Keempat :
Tidak disebutkan sama sekali peran dari sel telur wanita. Jadi Al-Qur’an hanya dapat menuliskan air mani karena itu kelihatan mata. SEMENTARA YANG TIDAK KELIHATAN MATA TIDAK DIKETAHUI.
Apakah manusia hanya tercipta dari air mani saja? Dimanakah sel telur dan peran perempuan?

Itulah sebabnya versi “Islam” dari bukunya bahkan TIDAK TERSEDIA DI BRITISH LIBRARY, US LIBRARY DAN DI PERPUSTAKAAN-PERPUSTAKAAN DINEGARA MAJU LAINNYA. Kenapa??? Karena Keith Moore sadar bahwa penemuan ilmiah dalam qur’an itu bertentangan dengan pengetahuan yang umum, bahkan juga bertentangan dengan apa yang dia tulis di edisi standardnya.

Dalam bibliografi untuk bab 1 dalam bukunya, Keith Moore mencantumkan buku rujukan The History of Embryology karya J. Needham yang dikenal sebagai salah satu pakar embryology. Uniknya, J. Needham dalam buku tersebut sama sekali tidak terkesan dengan klaim embriologi qur’an. Setelah membahas embriologi yang dikenal dalam budaya kuno Yunani, India dan Mesir sebanyak 60 halaman, J. Needham hanya memberikan tidak lebih dari 1 halaman tentang embriologi qur’an dengan menyimpulkan :

Ilmu pengetahuan Arab, yang begitu sukses dengan ilmu astronominya, ternyata tidak banyak bermanfaat dalam bidang embriologi……….. hanyalah pengulangan dari apa yang diajarkan oleh Aristoteles dan Ayer-veda.

9. KESAMAAN JUMLAH KATA
Muslim mengklaim adanya kesamaan jumlah kata yang luar biasa. Berikut diberikan klaim tersebut.
Al Dunya yang berarti Dunia sebanyak 115
Al –Akhirah atau Akhirat sebanyak 115

Al-Malaikah yang berarti Malaikat sebanyak 88
Al-Shayatin yang berarti Setan sebanyak 88

Al Hayat yang berarti Hidup 145
Al-Maut yang berarti Kematian juga berjumlah 145

Al-Rajul yang artinya Lelaki sebanyak 24 buah Al-Mar’ah “ atau perempuan sebanyak 24 Al-Shahar atau Bulan berjumlah 12
Al Yaum yang berarti Hari sebanyak 365.

Saya coba cek untuk satu klaim saja yaitu tentang jumlah kata bulan (shahar) yang katanya ada 12.

Dikopi dari DivineIslam's Qur'an Viewer software v2.8

Kita cek.
QS 2 : 185 : (ada 2)
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan ………
002.185 SHAHRU rama[da]na alla[th]ee onzila feehi alqur-[a]nu hudan li(l)nn[a]si wabayyin[a]tin mina alhud[a] wa(a)lfurq[a]ni faman shahida minkumu a(l)SHSHAHRA

QS 2 : 194 : (ada 2) Bulan haram dengan bulan haram ….
002.194 A(l)SHSHAHRU al[h]ar[a]mu bi(al)SHSHAHRI al[h]ar[a]mi …

QS 2 : 197 : (ada 1) (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi [122], barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan ….
002.197 Al[h]ajju ASHHURUN …..

QS 2 : 217 : (ada 1) Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu …..
002.217 Yas-aloonaka AAani a(l)SHSHAHRI al[h]ar[a]mi qit[a]lin ….

QS 2 : 226 : (ada 1) Kepada orang-orang yang meng-ilaa' isterinya [141] diberi tangguh empat bulan
002.226 Lilla[th]eena yu/loona min nis[a]-ihim tarabbu[s]u arbaAAati ASHHURIN ….

QS 2 : 234 : (ada 1) … (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan
002.234 Wa(a)lla[th]eena yutawaffawna minkum waya[th]aroona azw[a]jan yatarabba[s]na bi-anfusihinna arbaAAata ASHHURIN ……

QS 4 : 92 : (ada 1) ……, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan
004.092 …….. faman lam yajid fa[s]iy[a]mu SHAHRAYNI .......

QS 5 : 2 : (ada 1) ……, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram
005.002 Y[a] ayyuh[a] alla[th]eena [a]manoo l[a] tu[h]illoo shaAA[a]-ira All[a]hi wal[a] a(l)SHSHAHRA ……

QS 5 : 97 : (ada 1) Allah telah menjadikan Ka'bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia [444], dan (demikian pula) bulan Haram
005.097 JaAAala All[a]hu alkaAAbata albayta al[h]ar[a]ma qiy[a]man li(l)nn[a]si wa(al)SHSHAHRA ……

QS 9 : 2 : (ada 1) Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan
009.002 Fasee[h]oo fee al-ar[d]i arbaAAata ASHHURIN …….

QS 9 : 5 : (ada 1) Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu [630],
009.005 Fa-i[tha] insalakha al-ASHHURU ……

QS 9 : 36 : (ada 2) Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, ….
009.036 Inna AAiddata a(l)SHSHUHOORI AAinda All[a]hi ithn[a] AAashara SHAHRAN …..

QS 34 : 12 : (ada 1) Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan ……
034.012 Walisulaym[a]na a(l)rree[h]a ghuduwwuh[a] shahrun waraw[ah]uh[a] SHAHRUN …

QS 46 : 15 : (ada 1) Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,
046.015 Wawa[ss]ayn[a] al-ins[a]na biw[a]lidayhi i[h]s[a]nan [h]amalat-hu ommuhu kurhan wawa[d]aAAat-hu kurhan wa[h]amluhu wafi[sa]luhu thal[a]thoona SHAHRAN ………

Baru sampai sura 46 sudah ketemu 17 kata yang dibentuk dari SHR (BULAN).

Jadi : Betul khan kalau hanya klaim bohong-bohongan ala muslim.

PENUTUP
Bagaimanapun “TIDAK AJAIBNYA” Al-Qur’an, ternyata harus diakui masih ada satu keajaiban Al-Qur’an yang luar biasa yaitu :

BUKU YANG LUAR BIASA KACAU BALAU TERNYATA DIPERCAYA MATI-MATIAN SEBAGAI HASIL KARYA AJAIB DAN DIDEKTEKAN LANGSUNG OLEH AULLOH SWT MELALUI MALAIKAT JIBRIL.

Tampaknya itulah satu-satunya keajaiban Al-Qur’an.

Sekian


*Sumber tulisan ini dikutib dari : http://indonesian.knowislam.info/forum/viewtopic.php?t=491&postdays=0&postorder=asc&start=0

Ditulis oleh : vivaldi